Merah Putih berkibar di Mt. Elbrus (5642 M)
| 17 August 2009
Ketika kami informasikan ke belasan pendaki dunia dari Rusia, Jerman, Swiss, Polandia bahwa hari itu 17 Agustus 2009 adalah hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke 64,
ternyata sambutan mereka sangat positif. Puncak Mt. Elbrus (5642 M) yang hanya seluas 30 meter persegi itu segera dikosongkan agar kami Tim Indonesia Independence Day Mt. Elbrus 2009 – Eiger - Mahitala Unpar Bandung (Budi Hartono Purnomo & Sieling) bersama Tim Federasi Mountaineering Indonesia (Franky Kowaas) dapat melakukan upacara peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia di titik tertinggi benua Eropa. Tak lama setelah Sang Merah Putih berkibar, lagu kebangsaan “Indonesia Raya” berkumandang dengan semangat, gagah perkasa menembus relung-relung hati kami dan pendaki dunia lainnya. Rasa haru, bangga, rasa kebangsaan yang kental menyergap, membuat mata nanar menahan tangis. Apalagi melihat sikap pendaki dunia lainnya yang tegak hormat selama upacara berlangsung. Alunan irama lagu yang kadang “fals”, menjerit dari kerongkongan kami yang terluka karena iritasi akibat cuaca dingin tidak mengurangi rasa hormat mereka terhadap upacara tersebut. Beberapa pendaki negara lain membantu kami merekam acara sakral itu lewat handycam kami maupun lewat foto tustel kami yang secara reflek mereka ambil dari kami. Begitu alunan bait terakhir lagu Indonesia Raya berakhir, jeda sebentar dan tepuk tangan bergema. Pendaki dunia menghambur dan memeluk kami : “Congratulations, you have done the great job”. Yang paling bersemangat adalah Tim dari Polandia sambil menunjuk : That is also my National Flag. Ya tentu saja Merah Putih kalau dibalik akan menjadi Putih Merah, bendera Nasional Polandia.
Sang Merah Putih berkibar di Mt.Elbrus (5642M)-Rusia, "The Highest Summit of Europe".Pada tanggal 17 Agustus 2009 jam 11.10 dalam rangka merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64.Dirgahayu Indonesia - MERDEKA. Oleh Tim Indonesia Independence Day 2009,Eiger-Mahitala Unpar.
Sang Merah Putih berkibar di Mt.Elbrus (5642M)-Rusia, "The Highest Summit of Europe".Pada tanggal 17 Agustus 2009 jam 11.10 dalam rangka merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64.Dirgahayu Indonesia - MERDEKA. Oleh Tim Indonesia Independence Day 2009,Eiger-Mahitala Unpar.
Sang Merah Putih berkibar di Mt.Elbrus (5642M)-Rusia, "The Highest Summit of Europe".Pada tanggal 17 Agustus 2009 jam 11.10 dalam rangka merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64.Dirgahayu Indonesia - MERDEKA. Oleh Tim Indonesia Independence Day 2009,Eiger-Mahitala Unpar.
Sang Merah Putih berkibar di Mt.Elbrus (5642M)-Rusia, "The Highest Summit of Europe".Pada tanggal 17 Agustus 2009 jam 11.10 dalam rangka merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64.Dirgahayu Indonesia - MERDEKA. Oleh Tim Indonesia Independence Day 2009,Eiger-Mahitala Unpar.
Masih tergiang ucapan Bapak Menteri Dalam Negeri, Mayjend TNI (Purn.) Mardiyanto ketika menerima Tim Ekspedisi Sudirman Mahitala Unpar yang akan mendaki 5 puncak di kawasan Pegunungan Tengah Jayawijaya bersama Tim Ekspedisi Aconcagua 2008 – Mahitala Unpar-Eiger pada hari Rabu, 31 Desember 2008.
Beliau berkata : Saya terharu terhadap upaya Putera Indonesia yang mengibarkan bendera Merah Putih di puncak-puncak dunia, rasa kebangsaan dan patriotisme ini yang harus dipertahankan dan dikembangkan terus.
Beliau mengatakan bahwa misi Menteri Departemen Dalam Negeri salah satunya adalah terus mengobarkan semangat patriotisme dan nasionalisme terhadap tanah air Indonesia agar tetap bergelora dan nyala di setiap hati generasi muda.
Berbekal ucapan beliau maka kami menyusun Tim Indonesia Independence Day 2009, Mahitala Unpar – Eiger untuk mewujudkan pengibaran Sang Merah Putih pada hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke 64, tanggal 17 Agustus 2009 di titik tertinggi Mt. Elbrus (5642 M) – Rusia. Gelora Nasionalisme begitu pekat karena dari 7 summits circuit, hanya Mt. Elbrus & Mt. Kilimanjaro yang memungkinkan saat ini untuk di daki di bulan Agustus, bertepatan dengan hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI.
Rasa haru biru masih tersisa hingga hari ini, setelah berjuang 8 (delapan) jam menembus padang salju dengan kemiringan 60o dan suhu udara -25 oC dari Pastukhova Rocks yang menghantar kami ber 3 (tiga) ke puncak tertinggi benua Eropa itu tepat tanggal 17 Agustus 2009.
Mt. Elbrus (5642 M), gunung tertinggi di daratan Eropa yang sering disebut ”Little Antartica” dan mempunyai nama lokal Mingi-Tau (Gunung Seribu) yang terletak di barat daya kota Kislovodsk – Rusia sudah lama mencuri hati kami untuk suatu saat didaki. Gunung ini unik, sejak ketinggian 2500 M sudah tertutup salju dan di 3000 M keatas nyaris putih semua, karena salju sampai ke puncaknya. Ada 2 puncak yaitu West Peak (5642 M) dan East Peak (5621 M).
Para pendaki dunia tidak dapat mengabaikan Mt. Elbrus karena termasuk salah satu dari 7 (tujuh) puncak dunia (Seven Continental Summits) yang amat didambakan oleh para pendaki dunia untuk dapat di daki semuanya.
Adapun mengenai 7 (seven) Summit Circuit lengkapnya sebagai berikut :
No. Continent Summit Country Altitude (M)
1. Afrika Kilimanjaro Tanzania 5896
2. Antartica Vinson Massif Antartica 4897
3. Asia Everest Nepal/China 8848
4. Australasia Cartensz Pyramid Papua, Irian Jaya 4884
5. Europe Elbrus Russia 5642
6. North America Denali/Mc. Kinley USA 6194
7. South America Aconcagua Argentina 6962
Bahkan Elbrus menjadi penting setelah tokoh Rusia yang legendaris itu Gorbachev “membuka” Uni Soviet di tahun 1985 dan Eropa di perluas mencakup Rusia. Selain itu Elbrus mengalahkan Mount Blanc (4807 M) dengan selisih tinggi 835 M. Gorbachev dengan Perestroika dan Glasnost nya membuka diri sejak tahun 1985 hingga sekarang.
Panorama senja yang indah di salah satu Pegunungan Kaukasus,di ambil dari Garabashi Camp 3800 M)
Panorama senja yang indah di salah satu Pegunungan Kaukasus,di ambil dari Garabashi Camp 3800 M)
Elbrus yang terletak di pegunungan Kaukakus di apit oleh Laut Hitam dan Laut Kaspia membentang sepanjang 1500 Km dengan lebar pegunungan 130 Km dan mempunyai 14 puncak gunung lebih tinggi dari Mount Blanc (4807 M) atau lebih dari 100 puncak dengan ketinggian diatas 4000 M.
Masalah utama di Elbrus adalah cuaca, yang sering berubah-ubah, tidak stabil, temperatur yang sangat dingin dan medan salju yang ditemui sejak ketinggian 2500 M yang membuat medan lebih berat dan sulit didaki. Selain itu karena bentuk Topografinya, banyak ditemui jurang-jurang, lidah gletsyer, celah-celah es (crevasses) yang berbahaya.
Elbrus dengan pegunungan Kaukasus nya yang terletak di Rusia Selatan menandai batas Eropa dengan daratan di sebelah utaranya (Rusia) sekaligus berbatasan dengan Turki, Iran. Georgia dibagian selatannya, sehingga penduduknya juga merupakan campuran bangsa-bangsa Turki, Iran, Chechnya, Georgia, Azerbaijan dan Armenia.
Salah satu sudut di Pegunungan Kaukasus : 7 Gletsyer Mountain, karena di gunung ini terdapat 7 gletsyer besar, sehingga gunung ini amat berbahaya untuk di daki.
Salah satu sudut di Pegunungan Kaukasus : 7 Gletsyer Mountain, karena di gunung ini terdapat 7 gletsyer besar, sehingga gunung ini amat berbahaya untuk di daki.
Tim Indonesia Independence Day 2009, Eiger - Mahitala Unpar Bandung yang terdiri dari Budi Hartono Purnomo dan Sieling berangkat dari Jakarta tanggal 09 Agustus 2009 pukul 00.20 dengan Emirates Air (EK-359), transit di Dubai dan langsung ke Moscow. Kemudian tanggal 10 Agustus 2009 pukul 17.50 terbang dari Moscow ke Mineralnye Vody dengan Maskapai Penerbangan Rusia Aeroflot SU-787, tiba pukul 19.50 dilanjutkan kendaraan darat selama 3 (tiga) jam menuju Terskol (2100 M), desa di kaki gunung Elbrus di Lembah Baksan (Baksan Valley).
Meskipun Rusia sudah banyak berubah dan membuka diri dengan reformasi ala Perestroika dan Glasnostnya namun sisa-sisa ciri Negara Sosialis dari negeri tirai besi ini masih kental terlihat berupa kakunya prosedur pemeriksaan di setiap bandar udara dan kantor imigrasi yang tidak kenal kompromi. Prosedur selain kaku juga bertele-tele tapi harus diikuti.
Bermula dari Terskol (2100 M), pada hari Selasa 11 Agustus 2009 aklimatisasi mulai dilakukan dengan pendakian ke Cheget Karabashi (3185 M) selama 4 (empat) jam mendaki bukit dan turun kembali ke Terskol. Hari itu, wujud Elbrus yang sebenarnya tampak sempurna dengan 2 (dua) puncak kembar yang berdampingan yaitu Puncak Barat (5642 M) dan Puncak Timur (5621 M), karena cuaca cerah dan langit biru.
langit biru.Menunjukkan luas nya padang salju dan kecuraman medan di Pastukhova Rock (4600M) menjelang Summit Attack. Medan salju bervariasi kedalaman nya antara (10-60) cm yang sering menguras tenaga kami untuk sekedar melalui nya.
langit biru.Menunjukkan luas nya padang salju dan kecuraman medan di Pastukhova Rock (4600M) menjelang Summit Attack. Medan salju bervariasi kedalaman nya antara (10-60) cm yang sering menguras tenaga kami untuk sekedar melalui nya.
Rabu 12 Agustus 2009 kami menuju ketinggian 3380 M dalam cuaca buruk, hujan salju, mendung, hawa amat dingin karena angin bertiup kencang. Medan salju berat dan licin, malam tersebut kami putuskan turun di ketinggian 3100 M dan bermalam di Cheeper Azau Camp. Hari ini cukup berat, medan salju dengan variasi kedalaman (10-60) cm sudah cukup menguras tenaga kami.
Keesokan hari nya, Kamis 13 Agustus 2009 dalam persiapan “Summit Attack” kami mendaki padang salju menuju Prijut 11 pada ketinggian 4100 M. Ketahanan fisik kami diuji selama 6 (enam) jam dan beruntung cuaca sangat bagus.
Liza, Sieling dan Franky Kowaas tampak kedinginan sewaktu aklimatisasi di Prijutt 11 (4100M). Memang ketika itu cuaca sedang tidak bersahabat, mendung mendadak datang, disertai tiupan angin dingin yang membuat suhu drop ke -13,5 C, jarak pandang menjadi pendek
Liza, Sieling dan Franky Kowaas tampak kedinginan sewaktu aklimatisasi di Prijutt 11 (4100M). Memang ketika itu cuaca sedang tidak bersahabat, mendung mendadak datang, disertai tiupan angin dingin yang membuat suhu drop ke -13,5 C, jarak pandang menjadi pendek
Elizabeth Pahl/Liza (kiri) dan Sieling (kanan) di salah satu bukit di Prijut 11 (4100M) ketika aklimatisasi sebelum Summit Attack. Aklimatisasi sangat perlu untuk menyesuaikan kondisi badan kita terhadap ketinggian yang mengakibatkan udara tipis, sehingga supply oksigen dalam darah berkurang, juga untuk penyesuaian terhadap temperatur ekstrim.Cuaca saat itu tidak bagus.
Elizabeth Pahl/Liza (kiri) dan Sieling (kanan) di salah satu bukit di Prijut 11 (4100M) ketika aklimatisasi sebelum Summit Attack. Aklimatisasi sangat perlu untuk menyesuaikan kondisi badan kita terhadap ketinggian yang mengakibatkan udara tipis, sehingga supply oksigen dalam darah berkurang, juga untuk penyesuaian terhadap temperatur ekstrim.Cuaca saat itu tidak bagus.
Tim Pendaki dari Indonesia, yang terdiri dari Budi Hartono Purnomo, Franky Kowaas dan Sieling dengan latar belakang Puncak Mt.Elbrus (5642 M) yang sebagian tertutup awan, diambil dari Pastukhova Rock (4600M).
Tim Pendaki dari Indonesia, yang terdiri dari Budi Hartono Purnomo, Franky Kowaas dan Sieling dengan latar belakang Puncak Mt.Elbrus (5642 M) yang sebagian tertutup awan, diambil dari Pastukhova Rock (4600M).
Jumat 14 Agustus 2009 sejak pukul 09.00 kami mendaki padang salju menuju Pastukhova Rock di ketinggian 4600 M. Cuaca bagus hanya bertahan hingga pukul 15.00 selebihnya menjadi buruk, hujan salju, mendung gelap dengan jarak pandang hanya 2 meter, angin dingin bertiup. Kami bertiga mulai menggigil kedinginan dan terbatuk-batuk. Kami ingat hari itu selama 9 (sembilan) jam kami berkutat di padang salju dengan temperatur -13,5 oC di siang hari.
Summit Attack – 17 Agustus 2009
Selama 2 (dua) hari kami terus mendaki dan mengasah keterampilan mendaki di padang salju, termasuk praktek berjalan miring di medan dengan kemiringan lebih dari 60 derajat, cara turun, cara menghentikan luncuran badan ketika terjatuh, membalik badan ketika terjatuh, cara efektif menggunakan kapak es (ice axe) dan sepatu Cakram es (Crampon).
Pukul 01.00 dini hari, Senin 17 Agustus 2009 ditengah kebekuan udara -25 oC kami sudah bangun dan mempersiapkan diri untuk pendakian ke puncak Mt. Elbrus (5642 M) – Summit Attack yang telah kami tunggu-tunggu.
Perlengkapan seperlunya kami masukkan ke ransel kecil 30 liter yang akan kami bawa dengan isi : makanan, termos air panas, sarung tangan cadangan, kamera, bendera dan perlengkapan pribadi. Setelah sarapan pagi berupa bubur dan minum teh manis panas kami siap mendaki ke puncak.
Pakaian kami lapis 5 (lima), paling dalam a.l :
Pakaian dalam dan Long John, fleece, lapis hangat Monkey Dress, lapis angin Goretex dan lapis luar Down Jacket.
Sarung tangan rangkap 2 (dua) : lapis dalam dan luar. Tutup kepala dan leher (Hut/Balaclava) sementara sepatu memakai Double Boot / Plastic Boot & Crampon dengan kaos kaki rangkap dan Gaiters untuk cegah salju / es masuk kedalam sepatu. Dengan dilengkapi lampu kepala dan sepasang Trekking Pole.
Kami mulai mendaki di kegelapan malam dan kebekuan -25 oC yang menusuk tulang. Pendakian dilakukan dengan perlahan tapi konstan agar terhindar dari pengaruh ketinggian (Altitude Mountain Sickenss/AMS).
Pendakian berat dimulai pukul 03.00 diperkirakan 10-12 jam ke puncak dan turun kembali selama 4 (empat) jam jadi diperkirakan total perjalanan Summit Attack akan makan waktu sekitar 16 jam.
Tim Rusia (terdiri dari 6 orang) yang meskipun berhasil Summit Attack tanggal 15 Agustus 2009 ternyata kembali ke Garabashi Camp (3800 M) dalam kondisi ”berantakan” dan sebagian sakit. Hal ini cukup menganggu pikiran kami bahwa medan sangat berat.
Menurut Elizabeth Pahl, guide kami yang selalu berkeliaran di Elbrus udara dingin pagi ini sangat luar biasa. Medan salju dengan kemiringan 45 derajat, suhu -25 oC, nyaris membekukan kami. Pakaian sudah lapis 5 (lima) dengan Goretex lapis ke 4 (empat) & Down Jacket lapis ke 5 (lima) / terluar masih tidak mampu menahan dingin. Pukul 07.00 kami baru sampai di ujung Saddle Point (5200 M) yang merupakan punggungan gunung yang hubungkan West & East Peak. Kita istirahat. Dada mulai sesak.
Pendakian selanjutnya makin berat, dibutuhkan 1 (satu) jam untuk menyebrangi punggungan, setelah itu nanjak dengan kemiringan sampai 60 derajat menuju Puncak. Sementara lebar track hanya 30 cm itupun karena dibuat tapak kaki sebelumnya. Sementara jurang mengangga lebar ke kanan dengan kedalaman ratusan meter. Maka kalau terpeleset, habis sudah.
Salah satu medan Mt.Elbrus menjelang Puncak. Tampak lereng sebelah kanan amat curam, licin. Begitu terpeleset kurang hati hati, badan akan jatuh meluncur ke kanan ratusan meter. Hari itu satu pendaki terpeleset dan masuk lembah dalam sampai ratusan meter. Kabar nya patah tulang dan kamera nya hilang.
Salah satu medan Mt.Elbrus menjelang Puncak. Tampak lereng sebelah kanan amat curam, licin. Begitu terpeleset kurang hati hati, badan akan jatuh meluncur ke kanan ratusan meter. Hari itu satu pendaki terpeleset dan masuk lembah dalam sampai ratusan meter. Kabar nya patah tulang dan kamera nya hilang.
Medan setelah Saddle Point (5200M), tanjakan begitu panjang. Banyak pendaki yang habis nafas di sini. Tampak dari foto, betapa pendaki dunia dari Russia yang tampak capai menjelang puncak.Biasa nya di sini merupakan titik balik gagal nya banyak pendaki sekelas dunia pun.
Medan setelah Saddle Point (5200M), tanjakan begitu panjang. Banyak pendaki yang habis nafas di sini. Tampak dari foto, betapa pendaki dunia dari Russia yang tampak capai menjelang puncak.Biasa nya di sini merupakan titik balik gagal nya banyak pendaki sekelas dunia pun.
Tampak pada foto medan yang sdh di lalui sejak dini hari jam 03.00 tadi, dan harus di lewati kembali untuk jalan pulang menuju Garabashi camp (3800 M).Foto di ambil dari atas, lereng menjelang puncak. Saya sempat menarik nafas panjang membayangkan masih 4 jam lebih menembus padang salju, untuk mendapatkan kehangatan di Garabashi Camp, beruta teh manis hangat , sup atau sekedar super mie kuah. What is the day....
Tampak pada foto medan yang sdh di lalui sejak dini hari jam 03.00 tadi, dan harus di lewati kembali untuk jalan pulang menuju Garabashi camp (3800 M).Foto di ambil dari atas, lereng menjelang puncak. Saya sempat menarik nafas panjang membayangkan masih 4 jam lebih menembus padang salju, untuk mendapatkan kehangatan di Garabashi Camp, beruta teh manis hangat , sup atau sekedar super mie kuah. What is the day....
Menjelang puncak, di ketinggian 5500 M, pengaruh ketinggian (Altitude Mountain Sickness) mulai terasa jelas. Nafas terasa lebih berat dan dada sesak. Badan capai. Langkah kaki berat, udara selalu kurang meskipun tarikan nafas sudah memburu. Pada sebagian orang di barengi sakit kepala & mual serta muntah. Bila sampai pada kondisi ini sangat bahaya.
Perjalanan menuju ke puncak cukup berat. Tapi udara cerah, langit biru, matahari terik. Seluruh jajaran pegunungan Kaukakus tampak jelas memanjang. Kami berhasil sampai puncak antara pukul 11 an. Puncak Barat Elbrus (5642 M) hanya seluas 30M2. Sudah dipenuhi belasan pendaki Rusia, Jerman, Swis & Polandia. Ketika mereka kami beritahu bahwa hari ini adalah HUT Kemerdekaan RI ke 64, mereka sangat menghargai & segera memberi kesempatan untuk seremonial & kibarkan Merah Putih.
Setelah upacara HUT Kemerdekaan RI, mereka minta foto bersama. Ada Tim Palang Merah dari Swiss. Suasana akrab. Pukul 12 kami turun dari puncak. Dalam perjalanan turun, sekitar tanjakan sebelum puncak ( 30 menit jalan turun dari puncak) kami bertemu Tim TVOne, Willy Kurniawan & Achmad Zaenal yang sedang berjuang ke puncak dan tiba pukul 13.00, sedang Miranti tertinggal jauh dibawah dan berhasil mencapai puncak pukul 16.00.
Perjalanan turun lebih berbahaya. Medan salju tampak begitu curam dengan jurang dalam di sebelah kiri. Matahari sangat terik membakar hangus muka kami, bibir pecah, padahal udara gunung dibawah nol. Mt. Elbrus cukup sulit didaki bila kita tidak mempergunakan Cable Car, terutama waktu Summit Attack. Hambatan utama adalah cuaca yang sering berubah & medan salju sejak ketinggian 2500 M. Praktis seluruh pendakian harus lewat padang salju yang habiskan tenaga & stamina kami. Mt. Elbrus tidak dapat diremehkan.
Dengan aklimatisasi yang baik, karena sejak hari pertama kami setiap hari berjalan mencapai ketinggian tertentu maka hari ke 7 (tujuh) kami berhasil mencapai puncak. Tercatat Tim Korea gagal ke Puncak hari ini, turun di ketinggian 5200 M, karena sakit & pendarahan. Menurut dugaan karena kurang aklimatisasi. Kami yakin, kami berhasil karena Tuhan beserta kami.
The MAHITALA - UNPAR, berkibar juga di Mt.Elbrus (5642 M) bersama : Sieling, Liza dan BHP (kiri ke kanan)
The MAHITALA - UNPAR, berkibar juga di Mt.Elbrus (5642 M) bersama : Sieling, Liza dan BHP (kiri ke kanan)
The Eiger, sponsor kami berkibar pula di Puncak Mt.Elbrus (5642 M). Go Eiger,..Go...Go...Go International...
The Eiger, sponsor kami berkibar pula di Puncak Mt.Elbrus (5642 M). Go Eiger,..Go...Go...Go International...
Sieling, Franky Kowaas dan BHP di Puncak Mt.Elbrus (5642 M)-Russia, pada tanggal 17 Agustus 2009 jam 11.10.
Sieling, Franky Kowaas dan BHP di Puncak Mt.Elbrus (5642 M)-Russia, pada tanggal 17 Agustus 2009 jam 11.10.
Jakarta, 31 Agustus 2009.
Spasiba,
Budi Hartono Purnomo (BHP)
Sang Merah Putih berkibar di Mt.Elbrus (5642M)-Rusia, "The Highest Summit of Europe".
Pada tanggal 17 Agustus 2009 jam 11.10 dalam rangka merayakan HUT Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia ke 64.
Dirgahayu Indonesia - MERDEKA. Oleh Tim Indonesia Independence Day 2009,Eiger-Mahitala Unpar.

Comments
Boleh lah kita atur waktu untuk mendaki bersama, pilihan bisa Kerinci atau Rinjani. Pasti menyenangkan. Barangkali ada member atau simpatisan www.BHP-adventures.com yang mau bergabung...ditunggu ya....
Salam,
Moderator1
Terima kasih atas dukungan nya, semoga dengan dukungan dan doa Bapak, kami dapat terus melanjutkan perjalanan kami dan mengibarkan bendera Merah Putih di tanah tanah tinggi di Manca Negara.
Salam,
BHP
sampai puncak dan mengibarkan sang saka merah putih, semoga succes selalu
Sieling Go CS (Madam Go dan kawan2)
RSS feed for comments to this post.