Indonesian Afrikaans Arabic Chinese (Simplified) Danish Dutch English Estonian Filipino Finnish French German Icelandic Italian Japanese Korean Malay Portuguese Russian Spanish Thai
Banner

Pendakian ke Puncak Mt. Aconcagua (6962 M) “The Highest Summit of Americas”

Aconcagua merupakan pusat daya tarik utama National Park di Argentina karena paling banyak dikunjungi para pendaki gunung kaliber Internasional setiap tahunnya yang biasanya terjadi di musim pendakian.

Musim pendakian terjadi di musim panas, yaitu di awal Desember sampai akhir Maret setiap tahunnya, cuaca sempurna akan diperoleh pada pertengahan Januari sampai pertengahan Maret. Selebihnya adalah masa peralihan, tetapi diluar Desember sampai dengan Maret, bukan musim pendakian, maka memerlukan ijin khusus dari pengelola Taman Nasional.

Menjadi terkenal dan di kunjungi oleh Pendaki gunung kaliber Internasional karena Aconcagua adalah salah satu dari 7 (seven) Summit Circuit, yaitu dambaan para Pendaki Gunung Internasional untuk menjejakkan kaki di 7 (seven) Summit in 7 (seven) Continent, artinya di dunia ini ada 7 puncak gunung tertinggi di 5 benua dan 2 daratan terbesar (Seven Continent). Hal ini dicetuskan oleh Dick Bass dan Pat Morrow yang sampai saat ini terus menjadi ambisi para pendaki Internasional untuk mampu dan punya kesempatan menjejakkan kaki di puncak-puncak tertinggi di dunia itu. Sementara di Indonesia masuk Cartensz Pyramida di Papua yang meskipun tingginya hanya 4884 meter, namun derajad kesulitannya cukup tinggi, selain daerah itu sangat terpencil dan sulit di akses. Inilah yang membuat Cartensz Pyramida mempunyai derajad kesulitan tinggi.

Adapun mengenai 7 (seven) Summit Circuit lengkapnya sebagai berikut :

No. Continent Summit Country Altitude (M)

1. Afrika Kilimanjaro Tanzania 5896

2. Antartica Vinson Massif Antartica 4897

3. Asia Everest Nepal/China 8848

4. Australasia Cartensz Pyramid Papua, Irian Jaya 4884

5. Europe Elbrus Russia 5642

6. North America Denali/Mc. Kinley USA 6194

7. South America Aconcagua Argentina 6962

Daerah sekitar Aconcagua yang dilindungi Taman Nasional / cagar alam (National Park) seluas 71.000 hektar dan terletak di Propinsi Mendoza yang berbatasan sebelah barat dengan Negara Chili sangat di banggakan rakyat Argentina. Mendoza (700 M) kota sejuk yang indah, banyak kebun anggur (vineyard) yang juga terkenal dengan steak & wine nya yang di klaim salah satu yang terbaik di dunia. Banyak sungai besar dengan lembah-lembahnya yang luas, sungai –sungai panjang dengan lembah luas itu, al ; Horcones, Vacas, Relincho dan Cuevas.

Aconcagua (6962 M) dengan suhu ekstrim yang bisa mencapai -30oC sampai -40oC di malam hari dan suhu -20oC di siang hari dan ketinggian hampir 7000 M memberikan sensasi sendiri dan merupakan ajang uji coba setelah Kilimanjaro (5896 M) yang merupakan puncak tertinggi di benua hitam Afrika, sebelum mengembara di deretan puncak di atas 8000 M di kawasan Pegunungan Himalaya dengan Puncak tertingginya Mt. Everest (8848 M) di Asia.

Selain itu Aconcagua terkenal dengan badai salju (White Storm) nya yang diawali dengan munculnya awan cendawan/jamur (Mushroom Clouds) yang sangat ditakuti dan menjadi momok para pendaki dunia itu. Berdasarkan pengalaman, jarang ada pendaki yang mampu bertahan di ketinggian 5000 M ketika di terjang badai salju itu yang mempunyai kecepatan angin sekitar 80–100 km/jam. Sehingga menjadi pedoman, begitu tanda akan munculnya badai salju (White Storm) yang berupa Awan Jamur itu, maka semua pendakian dibatalkan, dan semua pendaki harus turun ketempat lebih rendah, segera berlindung di gua, ceruk, celah tebing karena akan sangat berbahaya. Aconcagua termasuk salah satu gunung yang mempunyai resiko/ratio kematian pendaki tertinggi di dunia. Konon bahkan lebih tinggi dari Denali (Mc. Kinley) di Alaska atau bahkan Mt. Everest itu sendiri.

Aconcagua mewakili sosok Pegunungan Andes yang memanjang dari Amerika Utara hingga Amerika Selatan merupakan deretan pegunungan tinggi dengan lebar pegunungan mencapai 70 km, sedangkan tinggi pegunungan menurun dari utara di awali Puncak Aconcagua yang 6962 M itu, terus menurun ke selatan hingga ketinggian 3500 M. Kawasan Pegunungan Andes hanya di huni batuan basalt hitam, salju, glacier dan beberapa jenis binatang, yang terkenal yaitu : Guanacos (sejenis Lhama di Tibet).

Batuan di Pegunungan Andes di kategorikan menjadi 3 kelompok besar, yang tertua adalah kelompok batuan yang sudah mengalami Deformasi selama lebih dari 300 juta tahun, yang kedua kelompok yang terbentuk dari Sedimen Laut pada jaman Mesozoic dan kelompok ketiga terbentuk dari Batuan Volcanic (Andesites) yang terbentuk pada jaman Tertiary.

Mata uang Argentina A$ (Peso) dengan kurs 1 US$ = A$ 3,5. Beda waktu antara 9 dan 10 jam dengan Jakarta, dimana waktu Jakarta lebih dulu karena terletak lebih ke Timur. Bekas jajahan Spanyol ini tetap mempergunakan bahasa Spanyol sebagai bahasa sehari-hari.

Sabtu sore itu, 29 Nopember 2008 Tim Pendakian Aconcagua 2008 – Eiger – Mahitala Unpar Bandung telah siap di Bandar Udara International Soekarno Hatta Jakarta yaitu : Budi Hartono Purnomo dan Sieling Go untuk terbang dengan Malaysian Airlines, nomor penerbangan MH 724 yang akan take off pukul 19.50 menuju Kualalumpur- Johanesburg-Cape Town dan Buenos Aires Argentina.

Kami akan mendaki Mt. Aconcagua (6962 M) di propinsi Mendoza, setelah itu akan menjelajah kawasan Patagonia di Argentina Selatan. Sasaran di Patagonia adalah pendakian Cerro Solo (2121 M), penjelajahan Glacier Grande dan El Torro di El Chalten dan Glacier Perito Moreno di El Calafate. Total perjalanan adalah 30 hari dan akan tiba di Indonesia, hari Selasa, 30 Desember 2008 setelah semua misi dapat diselesaikan.

Tim pendakian Aconcagua 2008 – Eiger – Mahitala Unpar Bandung mendapatkan dukungan dari PT. Eigerindo Multi Produk Industri serta bertujuan melakukan uji coba atas produk-produk dari PT. Eigerindo MPI di medan Aconcagua.


Minggu, 30 Nopember 2008 pukul 15.40 waktu setempat - beda waktu 9 (sembilan) jam, Jakarta terlebih dahulu.

Kami mendarat di Ministro Pistarini (Ezezza) International AirportBuenos Aires setelah terbang lebih dari 25 jam dari Jakarta. Setelah urusan imigrasi selesai, kami menuju Microtel Hotel di Buenos Aires untuk menginap semalam, sebelum kami melanjutkan terbang menuju kota Mendoza di lereng Pegunungan Andes. Tidak banyak yang kami lakukan di Buenos Aires kali ini, karena kondisi kami yang capai setelah perjalanan jauh dan saya terkena flu berat yang membuat badan lemas. Kami hanya makan malam kemudian beristirahat.

Senin, 01 Desember 2008 : Buenos Aires – Mendoza (700 M)

Siang ini kami akan terbang ke Mendoza dengan pesawat domestik Aerolineas Argentina AU-2416 pukul 13.15 dan tiba di Mendoza pukul 15.10 (beda waktu 10 jam dengan Jakarta). Kami dijemput staff dari Aymara Adventures & Expedition yang akan menemani pendakian kami ke Mt. Aconcagua. Mendoza dengan ketinggian 700 M merupakan kota kecil yang apik, bersih dan sejuk. Penduduk berbahasa Spanyol. Mendoza juga terkenal dengan steak dan wine nya yang termasuk salah satu yang terbaik di dunia.

Dari airport kami menuju Hotel Aconcagua bertemu dengan Gabriel Rocamora – Mountain Guide kami untuk memeriksa peralatan. Peralatan yang kurang atau kurang memadai untuk dipakai disarankan untuk beli di Mendoza atau menyewa. Sementara sewa peralatan bekas sekitar 50% dari harga peralatan baru sehingga terkadang cukup membuat sulit kami untuk mengambil keputusan.

Sore itu kami membereskan semua urusan dengan Aymara Adventures & Expedition, mencari sisa perlengkapan, belanja kekurangan bahan logistik dan makan malam sebelum kembali ke hotel. Malam pertama di Mendoza diisi dengan re-packing barang ke ransel untuk masuk ke duffel bag. Untuk selanjutnya pekerjaan re-packing ini ternyata yang menghabiskan cukup banyak energi kami setiap harinya.

Selasa, 02 Desember 2008 : Mendoza (700 M) – Puente del Inca (2600 M)

Pukul 09.30, kami dijemput oleh Gabriel Rocamora untuk mengurus ijin pendakian ke kantor pariwisata setempat. Proses cukup cepat kemudian dengan minibus kami menuju Puente del Inca (2600 M) untuk bermalam sebelum keesokan harinya memulai pendakian kami melalui Vacas Route (Falso de los Polacos route) lewat Quebrada del Rio Vacas yang beberapa hari lebih panjang dan relatif lebih sulit dari Normal Route.

Rabu, 03 Desember 2008 : Puente del Inca (2600 M) – Punta de Vacas (2400 M) – Pampa de Lenas (2800 M)

Pukul 06.00 kami sudah bangun, rencana mau trekking pagi ke Nature Bridge dan Aconcagua View, bertemu dengan Remko Dalkmann pendaki Belanda yang telah lama tinggal di Peru dan pengarang buku tentang Mt. Aconcagua. Pagi ini udara cukup cerah. Pukul 10.00 kami naik mobil ke Punta de Vacas (2400 M) untuk mulai pendakian yang akan melewati sisi kiri sungai Vacas.

Pukul 10.30 mulai pendakian dari Punta de Vacas (2400 M) menuju Pampa de Lenas (2800 M). Medan sangat gersang, tumbuh-tumbuhan jarang hanya ditemui batu lepas sepanjang pendakian yang nantinya akan membuat kaki sakit. Hari ini kami akan berjalan sepanjang 14 Km selama (4-5 jam) ke arah Utara.

Di rute ini masih ditemui pohon dan tanaman perdu, udara sejuk, matahari terik. Sungai di kanan kami mengalir deras, mengingatkan Dudh Koshi (Sungai Susu) di Lembah Khumbu Himalaya tahun 2006 lalu. Karakter sungai mirip, terbentuk karena aliran gletsyer dengan meander nya. Medan masih datar dan membosankan.

Pukul 16.00 kami mengalami hujan bercampur butiran es, karena tidak menyangka akan hujan di hari pertama, kami cukup menderita kedinginan dan hampir beku (”frozen”) ketika tiba di Pampa de Lenas, suatu lembah datar tempat kami mendirikan tenda untuk bermalam. Disini ada pos Guardaparque dengan bendera Argentina, dan petugas memeriksa surat ijin pendakian kami dan pembagian kantong-kantong sampah.

Malam itu kami kedinginan karena hujan sore tadi membuat kami basah kuyup, malam pertama di pegunungan de los Andes, makan malam berupa daging sapi bakar (BBQ) dan dibagikan anggur merah (red wine).

Kamis, 04 Desember 2008: Pampa de Lenas (2800 M) – Casa de Piedra (3200 M)

Pukul 09.30, kami baru mulai perjalanan menuju Casa de Piedra (3200 M) sejauh 15 Km. Repacking dan makan pagi membutuhkan waktu 2 jam dan cukup melelahkan. Semua ransel dan duffel bag harus sudah siap untuk dibawa oleh Mule (hasil perkawinan kuda dan keledai) untuk diangkut mulai Punta de Vacas kemarin menuju Base Camp Plaza Argentina.

Hari kedua mulai terasa keganasan medan Mt. Aconcagua lewat Vacas Route. Medan terjal batu lepas ini benar-benar menguras tenaga dan membuat kaki sakit, terutama telapak dan ujung jari kaki. Lepas Pampa de Lenas, kita menyeberang sungai Vacas lewat jembatan besi kecil. Meskipun matahari terik, tiupan angin sangat dingin sehingga memerlukan jaket anti angin (Wind Proof Jacket).

Casa de Piedra yang merupakan dataran tinggi (Plateau) terletak pada pertemuan sungai Vacas dan sungai Relincho yang juga mempunyai banyak anak sungai bercabang kecil. Di mulut lembah sungai Relincho, bila cuaca cerah akan tampak Mt. Aconcagua dengan Polish Glaciernya, sementara di sebelah kanannya tampak Mt. Ameghino (5883 M), sebelah timur laut Mt. Aconcagua.

Menjelang Casa de Piedra (”House of stone”) kami harus melewati delta anak sungai Vacas sebelum bertemu bangunan kayu di dekat batu besar yang dipergunakan untuk tempat bermalam oleh para penggembala Mule (Mulleter) dan petugas Taman Nasional.

Perjalanan hari ini, ditempuh sangat lambat, selama 8 (delapan) jam dan kami membangun tenda sambil mengigil karena kedinginan. Malam hari turun hujan salju temperatur : -10oC, berangin sehingga tenda tertutup salju/es.

Jumat, 05 Desember 2008 : Casa de Piedra (3200 M) – Base Camp Plaza Argentina (4200 M)

Pukul 08.00 kami mulai mendaki, diawali menyebrangi sungai Vacas dengan naik Mule, menuju lembah Relincho. Kebetulan ada Mule yang bisa disewa sehingga kami tidak perlu basah menyeberangi 5 aliran sungai. Pemandangan sangat indah, lewat perbukitan dengan lembah luas menghantar dengan sungai Relincho mengalir tenang dibawahnya. Dipertengahan jalan sudah menemui medan gletsyer dan salju pertama. Terdapat sungai bawah es, yang mengalir dibawah es padat yang bisa dilalui macam jembatan. Dari kejauhan tampak Mt. Aconcagua (6962 M) didampingi Mt. Ameghino (5883 M). Medan bertambah berat, terjal, tanjakan cukup panjang yang melelahkan.

Untuk mencapai Plaza Argentina yang akan digunakan sebagai Base Camp kami menyebrangi sungai 2 (dua) kali.
Angin kencang yang keras mendorong kami dan mempersulit pendakian, saluran pernafasan mulai perih karena luka iritasi yang diakibatkan debu dan udara dingin meskipun matahari bersinar terik dan langit biru. Tampak pegunungan ”de los Andes” yang masih tertutup salju.

Pukul 18.00 kami baru tiba di Base Camp Plaza Argentina (4200 M) setelah berjalan 12 Km dari Casa de Piedra (3200 M), dan kami mendirikan tenda untuk bermalam.

Base Camp Plaza Argentina dilengkapi kantor Guardaparque, klinik kesehatan, WC, dapur, tenda makan dan banyak tenda dari ekspedisi lain dengan pendaki berasal dari manca negara. Temperature malam hari -12oC dan angin cukup kencang. Komunikasi hanya lewat satelit yang sering mati. Signal HP dan internet tidak ada. Komunikasi dengan dunia luar hampir terputus.

Sabtu, 06 Desember 2008 : Aklimatisasi di Base Camp Plaza Argentina

Hari ini kami beristirahat, pengaturan barang-barang mana yang akan dibawa ke Camp I dan Camp II serta barang yang ditinggal di Base Camp. Perhitungan harus cermat agar tidak merepotkan di kemudian hari.

Kegiatan lain berupa keharusan memeriksa kesehatan menyeluruh di klinik kesehatan oleh Dr. Sebastian. Pemerikasaan meliputi kandungan oksigen dalam darah, tekanan darah, denyut nadi, kondidi paru-paru dan sistim pernafasan, response anggota tubuh, volume paru-paru, dll.

Semua data dicatat dan kondisi kami dinyatakan baik dan boleh terus mendaki. Juga kami lapor ke kantor Guardaparque, menyerahkan surat ijin kami serta penjelasan tentang tata cara mendaki Mt. Aconcagua a.l: harus memakai double boot / plastic boot, membawa turun sampah termasuk tinja masing-masing pendaki untuk diserahkan kepada Base Camp Manager di Plaza Argentina pada saat kembali.

Minggu, 07 Desember 208 : Plaza Argentina (4200 M) – Camp I (5000 M) – Plaza Argentina (4200 M)

Metode ini disebut : “Cache-and-carry method” yang sangat efektif untuk aklimatisasi medan Aconcagua. Pendaki menuju Camp I dengan membawa beban / barang dan kembali ke Base Camp untuk bermalam.

Pukul 10.00 mulai meninggalkan Base Camp Plaza Argentina untuk menuju Camp I, diawali dengan tanjakan terjal menuju medan “Penitentes” yang berupa “stalagtit” es tajam, menjulang tinggi yang terbentuk dari aliran sungai bawah tanah atau genangan air yang membeku, kemudian digerus oleh angin sehingga terbentuk “penitentes”. Tak jarang penitentes menghalangi pendakian kami dan sering kami harus melewati hutan Penitentes.

Menembus Penitentes tidak mudah, sering tersesat dan sulit keluar (seperti terjebak dalam labyrinth) atau terperosok dalam onggokan salju sepinggang atau masuk celah es/crevasse. Jadi diperlukan teknik khusus untuk melewatinya. Paling mudah yaitu mengikuti jejak pendaki terdahulu, selain lebih mudah karena salju sudah keras diinjak juga arah lebih jelas.

Biasanya jalan masuk/keluar Penitentes diberi tanda tumpukan batu (stoneman) agar pendaki tidak tersesat.

Medan hari ini sangat berat, pernafasan mulai berat dan tersenggal-senggal. Pengaruh High Altitude mulai terasa. Sejak medan batu selepas Base Camp, ditemui Penitentes, medan batu, setelah itu bertemu medan salju dan dinding gletsyer miring dari 30o hingga 60o setinggi 300 M.

Pendakian medan es ini sangat berat dan menguras tenaga karena baru hari ini ditemui medan es yang panjang yang harus dilalui selama berjam-jam.

Pukul 16.00 kami baru mencapai Camp I, beristirahat sebentar dan tinggalkan barang-barang yang kita bawa, segera turun kembali ke Base Camp untuk bermalam. Ini adalah salah satu metode efektif yang kami pakai untuk aklimatisasi, agar tubuh siap, beradaptasi dengan baik agar keberhasilan pada saat ”Summit Attack” nanti dapat maksimum serta besar peluang keberhasilannya.

Senin, 08 Desember 2008 : Aklimatisasi di Base Camp Plaza Argentina (4200 M)

Hari ini kami benar-benar istirahat, memeriksakan kesehatan ke Dr. Sebastian yang hasilnya baik dan mengatur pembagian barang. Periksa ulang barang yang akan di angkut lagi ke Camp I dan barang yang akan di tinggal di Base Camp.

Selasa, 09 Desember 2008 : Base Camp Plaza Argentina (4200 M) – Camp I (5000 M)

Pendakian hari ini hanya merupakan pengulangan pendakian dua hari yang lalu, sehingga kami dapat lebih detail mengamati medan menuju Camp I.

Saya senang ketika melewati medan salju / gletsyer menjelang Camp I. Cuaca tetap bersahabat. Suhu di Camp I lebih dingin dari Base Camp Plaza Argentina, suhu di malam hari -20oC dan siang hari -5oC. Malam hari di dalam tenda pernah mencapai -18,5oC. Pengaruh ketinggian (altitude) jelas terasa pada tubuh kita.

Rabu, 10 Desember 2008 : Aklimatisasi di Camp I (5000 M)

Hari ini aklimatisasi penuh di Camp I, sebelum besok pagi memulai perjalanan ke Camp II (5850 M). Sepanjang hari sampai siang mempersiapkan peralatan. Pukul 15.00 merencanakan latihan dan praktek mengatasi keadaan darurat (Emergency Action) di medan salju.

Bagaimana berjalan yang benar di medan salju, cara pegang dan letak trekking pole dan ice-axe (kapak es), posisi kalau terjatuh, cara menahan luncuran badan ketika terjatuh, cara menahan luncuran badan ketika terjatuh di padang salju yang miring tajam, juga di latih ketika jatuh dengan kepala dibawah, cara memutar posisi badan sehingga kepala tetap diatas dan menahan luncuran tubuh menuju jurang dalam.

Selama hampir 3 (tiga) jam kami berlatih untuk mengingat semua pelajaran teori & praktek yang pernah kita dapat guna antisipasi akan hal-hal yang tidak diinginkan. Sangat menarik berlatih untuk mengulang kemampuan bertualang di medan es/salju.

Kamis, 11 Desember 2008 : Camp I (5000 M) – Camp II (5850 M)

Kami sadar hari ini perjalanan akan sangat berat, sementara kondisi fisik mulai menurun karena pengaruh ketinggian (altitude). Pagi tadi cukup lama saya membersihkan lubang hidung dari gumpalan padat darah mati akibat iritasi saluran pernafasan, selaput lendir saluran pernafasan sudah terluka, perih dan sakit rasanya.

Kekhawatiran saya terhadap kondisi Sieling karena trauma memakai Double boot/plastic boot yang ukurannya lebih besar dari ukuran kaki yang sebenarnya. Apalagi Sieling pernah mengalami masalah ketika memakai Double boot/plastic boot sewaktu pendakian ke Lobuche East (6019 M) di Himalaya Nepal “Musibah” pemakaian double boot itu amat menganggu konsentrasi Sieling dan nyaris menjadi “trauma”. Tampak sekali Sieling tidak percaya diri dengan Double boot yang dipakainya.

Saya mengerti akan masalah ini, karena hari Minggu, 07 Desember 2008 yang lalu, sewaktu menuju Camp I dari Plaza Argentina, hari pertama memakai Double boot, saya nyaris tumbang, berjalan berat & gontai. Kaki sakit, betis dan paha bawah kejang, nyaris kram.

Double boot itu terasa berat, total berat Double boot + Crampon (cakram es yang dipasang pada alas Double boot) adalah : 5,8 kg, jadi 2,9 kg per kaki padahal sehari-hari hanya pakai sepatu seberat 300 gram.

Pukul 10.00 kami baru mulai mendaki, langsung menembus medan batu terjal, sebagian medan gletsyer. Sudah tampak Sieling berjuang mati-mati an dan tertatih-tatih terus berusaha mendaki menuju Camp II walaupun pernah Double boot itu terlepas dari kakinya ketika mendaki.

Pendakian makin berat, kami sadar hari-hari mendatang kami akan di dera ganasnya alam & cuaca Aconcagua. Pukul 14.00 kami baru mencapai ketinggian 5300 M, masih 550 M dari Camp II jarak vertikal, artinya untuk mencapai Camp II masih memerlukan waktu sekitar 5 (lima) jam.

Kondisi Sieling makin menurun dengan Double boot nya yang menganggu, cuaca menjadi buruk, hujan salju dan temperatur semakin dingin mencapai -20oC, Akhirnya diputuskan Sieling akan turun ke Base Camp Plaza Argentina, bersama Charley, Pinky dan Susie yang kebetulan juga akan kembali ke Base Camp. Perpisahan ini sungguh mencekam, saya bersama Gabriel Rocamora terus melanjutkan pendakian ke Camp II.

Tak berapa lama di sebelah kiri kami, arah Camp II dan puncak Aconcagua, muncul momok itu : awan jamur (Mushroom Clouds). Suatu tanda beberapa saat lagi akan bertiup badai salju (White Storm) yang ditakuti oleh para pendaki di Mt. Aconcagua, Mc. Kinley bahkan di Mt. Everest telah menelan korban 11 (sebelas) pendaki dalam tragedi 10 Mei 1996 yang dikenal sebagai Mt. Everest Disaster dan diangkat oleh Jon Krakauer dalam bukunya “Into Thin Air”.

Jon Krakauer seorang jurnalis dari Amerika adalah salah satu pendaki yang selamat dari bencana itu karena begitu melihat munculnya awan jamur (Mushroom Clouds) segera turun dari puncak Mt. Everest (8848 M) meskipun Jon hanya 2 menit di puncak dan hanya sempat ambil beberapa jepretan foto. Sementara pendaki lain tewas karena terus melanjutkan menuju puncak yang tinggal beberapa meter lagi.

Saya sempat tercenung, juga Gabriel Rocamora, mau turun tidak keburu, hujan salju sudah mulai turun, angin menderu kencang, kondisi berubah cepat dan drastis. Diantara deru angin kencang, hujan salju dan dingin membeku yang mematikan, kami membangun Flying Camp (5350 M) dengan susah payah. Bayang-bayang beku jaringan (Frostbites) amat kental menghantui kami. Kami pasrah!!.

2 (dua) tenda telah berhasil didirikan, dipasang kuat dengan pasak dan tali diikat batu besar agar nanti tenda tidak terbang.

Sejak pukul 16.00, Kamis 11 Desember 2008, jam demi jam, kami berdua melewati “neraka” Aconcagua selama 18 (delapan belas) jam berikutnya. Kami kedinginan, ketakutan dan berdoa agar tetap dilindungi Tuhan. Barang berantakan di tenda, alas tenda basah dan dingin. Diluar salju turun dengan cepat, angin berputar, suara menderu keras macam pesawat udara ketika mendarat.

Saya gelisah, hanya duduk memegangi tenda tak tahu harus berbuat apa. Pukul 22.00 ketika badai mereda, saya keluar tenda, mencari Gabriel di tenda sebelah agar mengkontak Charley (Base Camp Manager) di Base Camp Plaza Argentina, saya sangat khawatir akan keadaan Sieling, Charley, Pinky dan Susie, apakah mereka selamat sampai di Base Camp.

Setelah mencoba beberapa kali kami terhubung dengan Base Camp. Saya lega mendengar suara Sieling dan mereka semua : Sieling, Charley, Pinky dan Susie selamat dan tiba di Base Camp beberapa saat yang lalu. Saya sempat lama bicara lewat telepon satelit dengan Sieling, terharu dan kekhawatiran sirna ketika mengetahui Sieling dan rekan lain selamat tiba di Base Camp.

Malam itu saya nyaris tidak tidur, mata nyalang. Hanya minum air gula hangat. Alas tanda mulai tertutup lapisan es tipis yang terbentuk dari ”debu” salju yang masuk menerobos tenda. Bubuk putih salju itu makin lama makin tebal membentuk lapisan es yang padat.

Saya kedinginan, sesak nafas dan badan mulai sakit karena posisi duduk/jongkok yang tidak nyaman. Malam beringsut lambat, sangat lambat dan hantaman badai salju tak henti-hentinya sepanjang malam itu. Kain tenda menjerit, tali berderak di jepit batu, angin mencicit membentur tebing selebihnya deru nafas bak kereta api tua yang bertahan hidup. Neraka Aconcagua benar-benar terjadi.

Jumat, 12 Desember 2008 : Neraka di Flying Camp (5350 M).

Pukul 06.00 pagi saya mengintip keluar tenda, badai agak mereda, tapi salju tebal masih terbang tertiup angin kencang. Alas tenda sudah dilapisi lapisan es keras setebal 1 cm, keras, tapi basah. Sleeping bag basah bagian luar, bagian dalam kering tapi dingin sekali.

Saya mencoba berbaring meluruskan tulang belakang, nyaman tapi segera kedinginan, sepanjang pagi dan siang itu badai masih mengamuk dan mulai reda menjelang jam 12.00 siang, kami memutuskan tetap bertahan di Flying Camp (5350 M) sambil mengamati perubahan cuaca. Rencana darurat mulai disusun, kami sadar peluang menuju Camp II adalah hari Sabtu, 13 Desember 2008 dan Summit Attack adalah hari Minggu, 14 Desember 2008.

Diluar itu sudah tidak ada peluang lagi. Berdasarkan ramalan cuaca, Sabtu cuaca akan membaik dan Minggu adalah cuaca maksimum terbaik dalam minggu-minggu ini. Hari Senin kembali buruk. Saya mulai berhitung cermat agar tidak gagal.

Peluang berhasil Summit Attack sangat kecil, meleset dalam memilih rute dan waktu berarti gagal ke puncak. Hari itu saya mengambil keputusan, Sabtu besok batal ke Camp II, tapi pindah melipir ke kanan, dibalik bukit menuju Camp III – Camp Colera (5970 M) setelah berdebat habis-habisan dengan Gabriel Rocamora.

Sabtu, 13 Desember 2008 : Flying Camp (5350 M) – Camp III – Camp Colera (5970 M)

Pukul 10.00, setelah makan pagi, meskipun angin bertiup kencang membawa terbang salju, kami memaksakan diri melipir pindah jalur ke kanan. Kami akan membangun tenda di Camp III – Camp Colera (5970 M).

Rencana semula yang akan menuju Camp II (5850 M) dan dari sana Summit Attack lewat Direct Polish Glacier kami batalkan karena tidak mungkin melakukan pendakian lewat Direct Polish Glacier dalam cuaca buruk serta didapat informasi bahwa salju sedalam pinggang sudah menghadang di kaki tebing Polish Glacier. Sebagai alternatif saya memilih Direct Polish Traverse lewat Camp III – Camp Colera meskipun melipir jauh ke kanan.

Gabriel Rocamora tampak kurang senang menuju Camp III – Camp Colera, karena Camp Colera amat tidak enak untuk bermalam, dingin, udara tipis dan sulit bertahan dari serangan badai, serta sering pendaki meninggal disana. Tapi tidak ada alternatif lain yang lebih baik. Keputusan sudah diambil, pertimbangannya :

  • Bisa sementara menghindar dari serangan badai salju dengan berlindung di balik bukit.
  • Camp Colera (5970 M) lebih tinggi dari Camp II (5850 M) sehingga lebih untung 2 jam untuk ke puncak, dan lebih cepat tiba di Camp ketika turun dari puncak.

Ramalan cuaca memang benar Sabtu, 13 Desember 2008 cuaca membaik selama perjalanan menuju Camp III – Camp Colera. Pemandangan sangat indah dan melewati padang salju, tebing gletsyer dan pinggang gunung.

Saya merasakan beratnya pendakian hari ini, dada mulai sakit dan paru-paru menderita karena kekurangan oksigen, badan terus melemah, sementara fungsi pencernaan di lambung kinerjanya menurun. Di ketinggian 6000 M lambung sudah kurang mampu mencerna daging, keju, susu dan makanan berat lainnya. Praktis sejak Kamis sore saya hanya mengandalkan teh manis, air gula, sereal + air hangat sebagai sumber tenaga hingga “Summit Attack”, terlalu beresiko memang.

Saya sampai di Camp III, Camp Colera jam 15.00 capai sekali. Mendirikan tenda amat lambat, hampir 2 jam baru beres beserta bongkar barang untuk memasak, baru pukul 22.00 semua selesai termasuk persiapan alat untuk Summit Attack.

Gabriel Rocamora sempat usul untuk tunda sehari “Summit Attack” menjadi Senin, 15 Desember 2008 dengan alasan untuk pemulihan kondisi. Menurut pengamatan Gabriel, saya sudah “habis”, tidak mungkin “Summit Attack” karena telah ”hancur” staminanya dihantam badai salju 18 jam di Flying Camp serta perjalanan ke Camp III – Camp Colera yang menyita seluruh energi saya, juga baru istirahat Sabtu malam, 13 Desember pukul 22.00. Padahal untuk Summit Attack harus mulai mendaki sepagi mungkin, sekitar pukul 05.00 berarti bangun pukul 03.00.

Menurut saya kesempatan untuk Summit Attack hanya tinggal besok. Saya sadar semakin lama tinggal di tempat tinggi (High Altitude) seperti Camp Colera (5970 M) maka kondisi saya semakin menurun, bukannya tambah sehat, tetapi kondisi justru akan drop habis.

Maka dengan tegas, malam itu saya putuskan “We will Summit Attack tomorrow, or forget it. No chance at all after tomorrow” Gabriel hanya menatap mata saya lama dan mengangguk tanpa ucapkan sepatah katapun, langsung masuk sleeping bag.

Malam itu saya tidak dapat tidur, lambung saya sangat perih dan mual, batuk saya berdentum lagi macam meriam bambu, pikiran terus berputar sampai pukul 03.00.

Minggu, 14 Desember 2008 : “Summit Attack”

Pukul 03.00, saya membangunkan Gabriel, melakukan persiapan cepat, masak air, temperature -32oC. Melakukan persiapan pendakian di ketinggian hampir 6000 M dengan temperature -32oC sungguh sangat berat. Reaksi badan melambat. Memasang Crampon di luar tenda menjadi pekerjaan yang sangat sulit.

Pukul 05.30 kami mulai mendaki, setelah mengamati beberapa regu dari Normal Route sudah mendaki, sehingga kami tidak perlu membuka jalan, salju menjadi padat, jejak kaki jelas untuk kami ikuti, semuanya memudahkan kami.

Pukul 10.00 kami sudah mencapai Independencia (6400 M), 2 (dua) jam lebih awal, namun Gabriel mengajak turun ke Camp III karena saya dinilai akan gagal ke puncak karena tenaga saya sudah habis. Saya debat Gabriel, logikanya tidak masuk akal karena jadwal maju tetapi diajak turun.

Pukul 14.00 kami tiba di La Canaleta (6700 M), ini adalah batas waktu titik balik (Turning Point) di Aconcagua. Semua pendaki harus turun ke Camp terakhir mereka pada pukul 14.00, baik sudah dekat ke puncak, atau sedang di puncak karena rata-rata perlu waktu (4-6) jam untuk mencapai Camp terakhir mereka dari puncak, sehingga paling lambat pukul 20.00 semua pendaki sudah tiba di Camp terakhir dan masuk tenda untuk beristirahat dan menghangatkan badan.

Menurut pengalaman, manusia hanya mampu bertahan 3 (tiga) jam melewati malam neraka di Aconcagua dalam artian tanpa tenda, tanpa sleeping bag, berjalan atau diam di udara luar dengan temperatur -30oC, bila ada angin (Wind Chilled) maka akan cepat beku (Frozen), karena itu Gabriel bersikeras minta turun ke Camp Colera.

I don’t want to be die here, with you, I want to climb down, berulang-ulang Gabriel berkata demikian.

Saya menjelaskan ke Gabriel bahwa saya mampu ke puncak dan mampu kembali mencapai Camp III – Camp Colera dan saya punya stamina dan energi cadangan. Gabriel tetap bersikeras mengajak turun dan saya bilang, kalau Gabriel mau turun silahkan, biarkan saya melanjutkan sisa pendakian ini. Karena tidak ada pilihan lain, Gabriel mengalah, kami tetap terus, saya berdoa kepada Tuhan agar diberi kekuatan dan cuaca baik sehingga mencapai puncak. Pukul 16.00 cuaca berubah menjadi buruk saya nyaris putus asa karena tanda-tanda mencapai puncak belum terlihat.

Ditengah kebimbangan ini kami bertemu 2 (dua) orang petugas Taman Nasional (Guardaparque) yang minta kami turun : The Mountain already closed, you should climb down, is over. Saya menjelaskan kepada mereka panjang lebar dan minta diberi kelonggaran waktu karena tinggal sedikit lagi ke puncak. Mereka mengamati saya dan mereka kenal Gabriel, entah mukjizat dari mana mereka ijinkan saya mendaki terus sembari lambaikan tangan : Go-on, take care and Good Luck.

Saya kembali berdoa kepada Tuhan, ucapkan terima kasih karena bisa terus dan mohon diberikan cuaca baik dan langit biru.

Ajaib, tak lama saya berdoa, cuaca cerah, angin hilang, matahari muncul dan langit biru.

Nafas saya makin berat menjelang ke puncak. Pukul 17.00 pada ketinggian 6930 M cuaca berubah buruk, awan gelap muncul, puncak tidak tampak, hujan salju turun. Saya mulai frustrasi, saya berdoa memohon kepada Tuhan agar saya diberi waktu sampai pukul 17.30 kalau belum mencapai puncak, maka saya akan turun. Saya mohon awan gelap & kabut di ganti langit biru.

Kembali keajaiban terjadi, doa saya dikabulkan, terjadi angin keras datang dari pinggang gunung ke atas mengusir awan gelap dan kabut, sejenak saya melihat jendela terbuka (Window Sky) dan tampak langit biru.

Pukul 17.10, Minggu 14 Desember 2008 saya menjejakkan kaki di Puncak Aconcagua (6962 M) ”The Highest Summit of Americas”, puji Tuhan, doa saya terkabul, saya berdoa ucapkan puji syukur dan menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan terbata-bata, terharu memandang deretan de los Andes. Berkat Tuhan cuaca begitu cerah, matahari mampu mengusir awan gelap dan kabut, untuk sesaat langit benar-benar biru, sewaktu mengambil foto. Sang Merah Putih kembali berkibar di Puncak Aconcagua (6962 M).

Pukul 18.00 matahari masih sepenggalahan tingginya di ufuk barat, berkat Tuhan cuaca sangat sempurna pemandangan begitu indah, dengan berat hati saya bergegas turun karena belum puas menikmati keindahan sore hari de los Andes. Apalagi mengingat 14 hari kami berjuang untuk mencapai puncak legendaris ini untuk memulai perjalanan berat menuju Camp III – Camp Colera.

Belum lama kami turun dari puncak, cuaca berubah drastis, awan gelap datang memayungi puncak Aconcagua, hujan salju turun, dengan setengah berlari saya menuruni dinding Aconcagua. Saya tidak ingat berapa kali saya jatuh terguling di padang salju, karena harus segera sampai Camp III – Camp Colera. Gabriel sudah berteriak-teriak ketakutan karena sebentar lagi gelap dan sulit menemukan jalan menuju Camp III – Camp Colera. Dengan sisa energi yang ada dan perjuangan keras, kami mencapai Camp III – Camp Colera pukul 22.00, langsung kami membanting badan kedalam tenda tanpa buka sepatu, karena kelelahan.

Perjalan kami hari ini amat berbahaya, dan menanggung resiko amat besar, terbukti 10 hari kemudian Rabu, 24 Desember 2008 terjadi musibah di ketinggian 6700 M.

2 (dua) pendaki meninggal di Aconcagua, seorang adalah pendaki wanita dari Italia dan yang lain Mountain Guide Argentina, mereka diserang badai di ketinggian 6700 M dan temperatur -18oC pada saat turun dari puncak, karena kabut, jarak pandang kurang dari 10 meter dan tersesat ke celah lain sewaktu akan kembali ke Condor’s Nest Camp, mereka naik dari Normal Route dengan Base Camp Plaza de Mulas.

Sebenarnya Mountain Guide sudah memberikan tanda dan berhubungan dengan telepon satelit, tapi Tim Rescue terhalang badai sehingga terlambat menolong mereka. Sementara, Sabtu 20 Desember 2008 pendaki Jerman : Stefan Geromin – 42 tahun juga meninggal di Aconcagua. Paling tidak sudah 3 (tiga) pendaki meninggal di Aconcagua dalam kurun waktu 1 (satu) minggu. Terbukti Aconcagua adalah gunung yang memiliki ratio kematian pendaki tertinggi diantara gunung-gunung tinggi lainnya.

Senin, 15 Desember 2008 : Camp III – Camp Colera (5970 M) – Flying Camp (5350 M) – Camp I (5000 M) – Base Camp Plaza Argentina (4200 )

Pukul 10.00 saya mulai turun dari Camp III – Camp Colera yang bersejarah bagi saya. Turun cepat dari dinding terjal Camp III melewati padang salju yang luas dan menemukan bangkai helikopter di ketinggian 5600 M (No. Mesin : 3130 83 00 103 – RZ5MI © 4839).

Hampir dalam setiap perjalanan saya menemukan bangkai atau mesin helikopter, seperti di Kinabalu, Everest Base Camp dan Mt. Kenya. Agar di renungkan bahwa para petugas penyelamat (Rescue Team) dengan helikopternya juga beresiko tinggi dalam tugas kemanusiaannya, menyelamatkan para pendaki yang tersesat dan mengalami musibah.

Tekanan udara yang tipis akan mempengaruhi kekuatan terbang helikopter, apabila terjadi turbulensi udara maka helikopter akan jatuh. Banyak korban meninggal. Seyogyanya setiap pendakian harus dipersiapkan semaksimal mungkin untuk menghindari kecelakaan atau musibah.

Ketika turun menuju Base Camp saya bertemu dengan beberapa pendaki asing yang akan menuju Camp III, mereka berhenti dan menyapa ”Congratulations!! You have done the great job”.. saya heran apa maksudnya???.

Juga waktu lewat Camp III Guanaco (5500 M) saya diminta singgah di tenda mereka, kita foto bersama. Tim Spanyol ini akan naik ke puncak, mereka mengatakan bahwa mereka mengikuti berita tentang pendakian saya dari radio gunung yang dipantau Tim Ekspedisinya, bagaimana saya bertahan 18 (delapan belas) jam dan lolos dari serangan badai salju serta berhasil mencapai puncak.

Pukul 16.15 saya tiba di Base Camp Plaza Argentina (4200 M) setelah melakukan perjalanan panjang yang melelahkan, senang bertemu dengan Sieling, bertemu pula dengan George, Susanto, Milug, sedangkan Hasan telah di evakuasi ke Mendoza karena sakit. Sore itu sungguh membahagiakan, juga berkenalan dengan 8 (delapan) pendaki asing yang akan menuju Puncak Aconcagua.

Selasa, 16 Desember 2008 : Base Camp Plaza Argentina (42 M) – Casa de Piedra (3200 M) – Pampa de lena (2800 M)

Perjalanan turun dari Base Camp Plaza Argentina (4200 M) dilakukan dengan sangat cepat. Kadang-kadang heran karena stamina kami masih sangat baik dan mempunyai energi cukup untuk berjalan cepat. Perjalanan pulang memang menyenangkan, pemandangan indah dinikmati.

Dalam perjalanan pulang tersebut sering kami “merinding” kalau mengingat perjalanan lalu ketika mendaki Aconcagua. Gunung ini benar-benar edan, dahsyat dengan temperatur ekstrim malam hari -30oC, siang hari -20oC, badai salju, angin dingin dan medan batu lepas maupun padang salju & gletsyernya. Pantas banya pendaki gugur disana. Juga Chung Kin Man salah satu 7 (seven) Summitter dunia asal Hongkong berkomentar getir, ketika bertemu saya di Hongkong hari Senin, tanggal 24 Nopember 2008.

Chung Kin Man berkata : meskipun sudah lebih dari sepuluh tahun yang lalu mendaki Aconcagua, saya masih ingat jelas betapa sulitnya mendaki Aconcagua, terutama temperatur sangat ekstrim, angin dingin dan badai saljunya.

Chung Kin Man berpesan, bawalah perlengkapan mutu tinggi untuk menahan hawa dingin, kalau tidak, akan gagal ke puncak. Gunung itu sulit, kembali Chung bergumam, padahal rute yang diambil adalah rute normal.


Kembali saya menerawang sejarah pencapaian Aconcagua oleh Putera Indonesia. Sampai sekarang masih jelas terbayang tragedi Aconcagua tanggal 20 Maret 1992 ketika Norman Edwin dan Didik Samsu tewas 300 meter menjelang Puncak karena hantaman badai salju. Mereka berdua adalah pendaki gunung kawakan kaliber Internasional dari Mapala UI Jakarta.

Akhirnya Januari 1993 ”hutang” tersebut dibayar tunai oleh Tantyo Bangun dan Ripto Mulyono yang berhasil menjejakkan kaki di puncak Aconcagua (6962 M) dari rute normal sekaligus menobatkan sebagai Putera Indonesia pertama yang mencapai Puncak Acocangua. Pendaki berikutnya adalah Aryati di tahun yang sama juga berhasil mencapai Puncak Aconcagua dari rute normal.

Sementara saya mendaki melewati jalur Direct Polish Traverse (Fasco Polaco Route), via Quebrada del Rio Vacas (Punta de Vacas) dan mencapai puncak Aconcagua (6962 M) pada hari Minggu, 14 Desember 2008 pukul 17.00.

Jakarta 10 Februari 2009

Adios,

Budi Hartono Purnomo (BHP)

Comments  

 
0 #6 Richard Purba 2010-05-29 11:56
Benar-benar pengalaman yang mendebarkan. Membaca saja saya berdebar mas BHP, apalagi merasakan.
Kira-kira mas, dari sudut fisik dan mental, bagaimana kriteria kebutuhan untuk pendakian puncak Aconcagua ini?
Bagaimana mas persiapan fisik dan mental mas sendiri untuk pendakian ini? Apakah itu sudah cukup?
Kalau masalah biaya bagaimana mas? berapa yang diperlukan?
(jika berkenan diberikan detail, lebih baik)
Saya ingin melihat kemungkinan apakah bisa untuk naik ke sana atau tidak...

Terima kasih sebelumnya.
Quote
 
 
0 #5 Budi Hartono Purnomo 2010-02-17 22:40
Mas Mocha mad Said Haffas,
Walaikum Salam,Salam sejahtera,

Terima kasih atas perhatian nya, apa yang membuat tertarik dengan perjalanannya ? Apakah foto, ceritera perjalanan nya atau pengalaman di alam ketika badai salju menghantam atau hubungan antar pendaki yang akrab?

Saya ingin berbagi pengalaman, barangkali bisa berguna. Banyak yang dapat kita pelajari dari alam, serta mengagumi keindahan ciptaan Allah.

Salam kenal,

Budi Hartono Purnomo
Quote
 
 
0 #4 Mocha mad Said Haffaz 2010-02-04 00:09
Assalamu a'laikum ...
salam lestari,,

aku sangat tertarik dengan perjalanannya,, -
Quote
 
 
0 #3 Mocha mad Said Haffaz 2010-02-04 00:08
Assalamu a'laikum..
Quote
 
 
0 #2 Andrea Y.P 2009-12-20 16:20
Pemandangannya sangat bagus, ceritanya mengalir, dan menggambarkan situasi pendakian saat itu.

Ngeri juga ya. Kita yang belum pernah mendaki gunung bisa mengerti seolah - olah kita mengalami sendiri. Website yang menarik dan dapat dipakai sebagai ajang komunikasi bagi yang tertarik atau ingin informasi tentang mendaki gunung
Quote
 
 
0 #1 Sieling 2009-12-20 12:20
Setahun yang lalu....kenangan pendakian Aconcagua yang penuh tantangan masih terasa. Tanpa campur tangan Tuhan Y.M.E., semuanya mustahil.....
Quote
 

Add comment


Security code
Refresh