Mt. Gede - 24 Mei 2008
| 24 December 2009
| Article Index |
|---|
| Mt. Gede - 24 Mei 2008 |
| Mt. Gede - 24 Mei 2008 Page 2 |
| All Pages |
Catatan Pembuka (Prolog) :
Terima kasih kepada SieLing yang sudah menulis Laporan Pendakian G.Gede (2958 M) ini amat cermat, detail, segar dan ceria seperti apa ada nya, dan sesuai dengan gaya Ling selama ini.
Saya sungguh terharu menerima Laporan Pendakian G.Gede (2958 M) sebanyak 62 halaman (padahal saya hanya minta laporan singkat 3 halaman saja).Saya tahu Ling sangat sibuk dengan urusan keseharian nya Ibu 3 anak yang mandiri, harus buat tulisan dan insert foto sebanyak 62 halaman,..wah sdh berlebihan.
Begitu saya membaca CD yang dikirimkan itu, langsung saya tertawa keras, kadang senyam senyum dan cekikikan mengingat perjalanan ke G.Gede yang lalu. Ling mampu melukiskan nya dengan detail, apa ada nya sampai urusan terkecil , sungguh Ling punya daya ingat yang amat mengagumkan. Tulisan ini sungguh bagus.
Seperti telah saya lakukan sejak tahun 1986, secara rutin saya selalu membawa relasi bisnis baik yang berasal dari luar negeri maupun dalam negeri untuk beraktivitas bersama di alam bebas. Ada yang mendaki gunung, sekedar trekking, menyelam, masuk gua, atau bahkan main tennis, golf, berenang atau sekedar ke pantai. Mereka sangat suka. Kebiasaan ini terus saya pertahankan sampai sekarang.
Reto Brosi-Direktur dari Swiss Reinsurance yang berkantor di Singapore adalah mitra kami Asuransi Himalaya Pelindung. Reto berjanji naik gunung sejak 5 tahun lalu, dan saya berjanji ketika mendaki gunung di Indo, saya akan suguhkan Cappuccino panas ketika menanti matahari terbit di ufuk timur. Ketika janji 5 tahun silam dipenuhi di Puncak G.Gede (2958 M), 25 Mei 2008 yang lalu, Reto sangat terharu, dia ”surprised” saya masih ingat dan pegang teguh janji tersebut. Maka nya ada pendaki bule lain terheran heran tentang komitmen itu ketika Reto jelaskan ”seremoni” di Puncak G.Gede itu.
John Sargison-Direktur dari Swiss Reinsurance yang berkantor di Hongkong juga salah satu mitra kami Asuransi Himalaya Pelindung yang lain nya. John agak pendiam di banding Reto tapi lebih populer di kalangan pendaki lokal yang ketemu di G.Gede minggu itu.
Rencana itu sdh ditentukan sejak January 2008, tapi baru last minute di proses lagi setelah jadwal nya mengalami perubahan beberapa kali karena kesibukan mereka. Tahap akhir setelah semua siap, baru di ketahui ada perbedaan persepsi, mereka berpikir pendakian tgl 24 Mei, sementara di agenda saya, pendakian tgl 31 Mei, krn itu ijin, hotel dsb diatur tgl 31 Mei. Tgl 21 Mei malam saya baru sadar ada yang salah sehingga jadwal di majukan mendadak seminggu ke depan. Disini kembali terbukti Ling adalah ”the real advonturer”. Sekali jadi tetap jadi, mendaki gunung is the life, isn’t it ?. Agak ”berantakan” juga urus nya, tapi karena sdh terbiasa mengorganisir trip, ya bisa di atasi.
Sebagian besar perlengkapan pendakian Ling yang siapkan dan bawa dari Maribaya. Semua urusan perlengkapan logistik Ling yang bawa, bahkan semua makanan Ling yang sponsori dan bayar semua, sponsor dari Ling van Maribaya Gunung Batu tea.Urusan ini Ling yang urus, saya tinggal ”lenggang kangkung” saja dan terima beres, terbukti Ling dapat di andalkan untuk dukung Ekspedisi Besar lain nya. Sementara John dan Reto juga ada sharing biaya untuk Pendakian G.Gede itu, jadi bukan sponsor Asuransi Himalaya Pelindung, tapi pergi ramai ramai dan biaya di tanggung bersama....Tralala..Tralala..
Sepanjang perjalanan saya sangat senang, teramat senang malah punya Tim lengkap dan kompak. Ling amat membantu dan kawan perjalanan yang enak dan baik, Reto dan John bahkan sangat baik, tidak repot, rese atau cenderung ”tertib dan manis”,mereka sangat membantu. Porter untuk ukuran Indonesia sangat baik, dan memang kalah jauh di banding porter Nepal yang sangat profesional.
Hal mengesankan, John dan Reto tidak rikuh makan dan minum satu piring/ satu gelas dgn kita, atau pakai piring bekas dari kita tanpa di cuci. Kalau Mahitala kita maklum, tapi mereka kan orang bule yang tentu nya gak biasa dgn cara cara ”kekeluargaan” seperti ini.
Saya ingat Reto masih mau makan nasi uduk yang di beli siang hari Sabtu itu dan di makan oleh Reto Sabtu malam jam 20:00. Padahal nasi uduk di masak pasti Sabtu subuh di G.Putri, dibungkus dalam kondisi panas dan di bawa naik, otomatis sdh 16 jam dalam bungkusan. Saya sdh peringatkan, mungkin agak basi dan bisa sakit perut/diare. Jawaban Reto : No problem Budi, I know it, and my stomach able to handle it, don’t worry. Langsung di santap abis pakai tangan telanjang. Padahal nasi uduk itu lauk nya hanya irisan tipis telur dadar goreng, sedikit kering tempe dan sejumput teri asin. Edan. Waktu saya beritahu Ling soal ini, Ling sempat tegur saya kenapa Reto di biarkan makan itu? Takut sakit perut. Padahal sebelum nya Reto sdh makan banyak, mulai “supper’ dan sejam kemudian di lanjutkan “dinner”. Sementara John sdh gak bisa makan lagi karena kekenyangan.
Selama pendakian Ling selalu yang mempersiapkan makanan kami (thanks ya Ling). John dan Reto mengamati hal ini, kadang Ling baru sampai, terlihat perlu istirahat, tapi langsung masak untuk kita, mengabaikan capai, lelah, sampai John bilang ke saya : She is (Ling) a real soldier. Mereka kagum…..
Selama pendakian saya bertemu dengan pendaki lokal lain nya. Mungkin karena G.Gede dianggap ”mudah” dan banyak orang naik maka persiapan dan perlengkapan mereka sembarangan, pakai sandal jepit, dan tanpa perlengkapan atau logistik yang memadai.
Menjelang tiba di Lembah Suryakencana, sekitar jam 14:15 an saya ketemu serombongan pendaki remaja yang 3 orang anggota tim nya ”sakit”. Satu tergeletak dan muntah, yang dua kram betis dan paha. Mereka menangis dan berteriak, sedangkan rekan nya tdk tahu apa yang harus mereka lakukan. Sementara hujan deras memporak porandakan mereka. Tenda belum sepenuh nya berdiri. Sebagian dari mereka menyelamatkan diri berteduh di bawah pohon atau lindungan semak semak. Saya mencoba mengurut mereka berdua dengan counterpain dan mengajari yang lain cara mengurut nya agar kendorkan kraam yang terjadi. Hampir satu jam waktu saya di sana memberi penerangan kepada mereka (kata Ling saya buka praktek di sana...he he gak ada bayaran lho Ling...). Sorry ya Ling, karena menolong mereka, sempat membuat Ling khawatir akan saya,..thanks for your concern and attention ,that’s the real friends for… Mereka sangat berterimakasih, sedang yang muntah, saya minta telentang dan minta termos air hangat untuk beri minum sedikit. Wah hujan sore itu benar2 deras, dingin dan memporak porandakan kami semua. Pendaki lokal anak muda itu kocar kacir dan ketakutan terbayang di wajah mereka.
Gunung Gede masih sangat indah dan familiar bagi saya ketika lagi kangen mendaki gunung dan mempunyai kenangan khusus. Hanya sayang kerimbunan Edelweiss sdh jauh menyusut. Dulu sangat mudah kita tiduran di atas hamparan Edelweiss. Sekarang musti jalan puluhan meter ke pinggir lembah, baru bisa menyentuh pokok pokok Edelweiss itu. Ironi ya…apa kebiasaan bikin api unggun dari pokok pokok Edelweiss masih merupakan kebiasaan para Pencinta Alam kita…?
Masalah lain lagi, sampah di sepanjang lintasan G.Gede sangat banyak dan sungguh mengganggu. Sangat beda jauh dengan Mt.Kinabalu di Sabah, Malaysia,Mt.Kilimanjaro di Tanzania dan Mt. Kenya di Kenya - Afrika Timur. Juga sepanjang Pegunungan Himalaya di Nepal. Kawasan itu sangat bersih dan “bebas” dari sampah. Sayang bukan…? Inilah tugas kita untuk sosialisasikan mengenai menjaga kebersihan lingkungan dan konservasi alam.
Sebagai penutup, kami akan merencanakan pendakian ke Semeru atau Merbabu atau Rinjani tahun ini dengan tamu yang lain, sekaligus uji coba dan aklimatisasi sebelum ke Mt.Aconcagua (6948 M) di kawasan Andes, Argentina, Amerika Selatan, separoh belahan dunia di ujung seelatan. Ling mau ikut lagi…that ta ta,…
Sekali lagi terima kasih ke Ling, Reto, John, Balung, Eddy, Hadi dan Mea yang sdh bersama kami di pendakian yang lalu.
Salam Rimba,
Budi Hartono Purnomo (BHP)
PERSIAPAN
10 Mei, malam hari Ling bincang-bincang sama Paul tentang rencana reuni Angkatan Gunung Batu yang mungkin akan mengadakan pendakian ke Gn.Gede, terus rencana pendakian Ling dengan BHHH-2 ke Gn.Semeru akhir Mei. Ling tanya boleh ga? Paul tidak terlalu merespon, tentu saja… dia kan ga gitu ‘ngeh’ istrinya daki gunung, ble!
Di tengah pembicaraan itu, Ling sms ke BHP, kasih tau, lagi bicara tentang Gn.Gede sama Paul, eh… tau-tau Budi nawarin Ling untuk ikut ke Gn.Gede bersamanya dengan 4 orang relasinya. “Mau Ling?” Lho koq nyambung? Tanpa tanya Paul & tanpa pikir panjang, langsung Ling balas, “Mau, kapan?”,
“Tgl 31 Juni daki & turun tgl 1 Juni’, “Ok, Budi” kata Ling.
“Pokoknya kita ingin enjoy dan makan enak” katanya. “Kami akan menyewa beberapa porter, Ling ga usah bawa daypack, cukup kamera dan handycam saja”. Wuih, enak banget ada porter, “Setuju!” balas Ling, langsung saat itu terkenang sosok Pasang, Ngima dan Bhimsen, porter di Nepal yang dedikasinya sangat tinggi dan kerja professional, mulai dari menata barang, memasak, berkomunikasi dalam bahasa Inggris, mengerti beberapa gejala penyakit gunung, sopan, mengerti perbekalan, perlengkapan, tidak pernah mengeluh, tidak merokok, menjaga kebersihan alam, jujur, bisa menyusun perjalanan, bahkan Bhimsen dan Pasang mengerti ticketing, juga pengetahuan tentang gunung serta kebudayaan bangsanya.
SMS hari itu seputaran porter Indonesia, yang bagi Ling masih asing, seperti apa mereka, terbayang tampang mengerikan, kotor, perokok, malas & lemah, cukup surprise juga Ling bisa ke Gn.Gede pakai jasa porter. Banyak yang dikuatirkan terutama kejujurannya, apakah mereka profesional sebagai porter atau cuman kuli angkut saja? Sudah 20 thn Ling ga tahu tentang gunung itu, tahu-tahu sekarang sudah dikelola dengan baik dan harus pakai ijin segala, terbayang lagi… Gn.Gede yang pastilah jadi resik, ada pos-pos penjaga, tempat rest, warung dan ada tempat sampah di sepanjang pendakian, aman dan tidak angker lagi… Baguslah!
Budi meminta Ling mengirim photocopy KTP untuk mengurus ijin pendakian di PPA Bogor, bagi WNI, kami harus membayar Rp.8.000,- per orang dan WNA Rp.40.000,- per orang.
Hmm… Gn.Gede, itu gunung pertama yang Ling daki sewaktu di SMA kelas 1 bersama 5 kakak kelas! Di gunung itu pula Ling membentuk grup PA “FLY HUNTER”, sejak itu… kecintaan akan alam mulai tumbuh, mulailah Ling menjadi petualang yang selalu mencari kesempatan pergi ke alam, hutan - gunung & pantai, akhirnya bergabung dengan PA “MAHITALA”.
Sudah 3X Ling daki Gn.Gede, 1X hanya sampai Suryakencana, 2X sampai puncak bersama Mahitala dan 1X dalam rangka sweeping sampah Gede-Pangrango, dan yang sekarang?
Gn.Gede atau Gedeh yang berarti Agung, terletak di Jawa Barat, yang dapat ditempuh dari Cipanas, ini termasuk gunung berapi dan letusan terakhir terjadi pada tgl 13 Maret 1957. Gede-Pangrango National Park yang mempunyai luas area 151.96km2 ini di sekitarnya terdapat beberapa gunung seperti Gumuruh, Sela, Ratu, Lanang, Wadon dan Baru, sedangkan yang masih aktif adalah Gn.Lanang dan Wadon. Demikian sekilas info… eh keterangan yang Ling ketahui (da nyontek)
Tralala… mulai deh sms dan e-mail Ling-Budi isinya tentang Gn.Gede, Gn.Gede dan Gn.Gede. Waelah, saat itu ga mikir, bukankah tgl 30 Mei sdh appointment akan ke Gn.Semeru? Rencana itu sudah cukup mateng dan Ling sudah ok untuk ikut. Ling langsung telpon teman untuk konfirmasi. Hmm, ternyata mereka belum bahas lagi, jadi lupakan…
Minggu 11 Mei instruksi dari Budi, smsnya: “Sampeyan nyiapno perlengkapan kanggo munggah G.Gede tgl 31 Mei. Penganane kudu apik tenan. Ojo lali siapno tenda lan alat masak” SMS pake bahasa apaan? Hm, itu gara-gara buku si Taloe dari Elly. Ah, artinya dikira sajalah, kalau Ling salah arti, yang salah ya BHP!! Kami bagi tugas, medical urusan Budi.
Siang itu juga Ling catat perlengkapan yang punya, lapor ke Budi dan runding apa saja yang harus disiapkan, yang kurang akan Budi beli, pokoknya, tugas utama Ling tuh, makanan. Budi sering tegaskan soal makanan harus uenak, huh dasar! Kalau soal makanan, don’t worrylah… Ling juga penikmat makan di gunung! Tauga? Kalau orang tanya,”Ling, apa sih enaknya daki gunung?” Ling selalu jawab,”Salah satunya bisa makan enak, di alam makan apa saja kerasa enak, apalagi kalau dapat makan makanan yang benar-benar enak, itu surga” Makanya, bawa makanan enak di gunung itu penting, Bud.
Besoknya, setelah Paul ke Jakarta, Ling mulai keluarin barang yang ada, tenda dibuka dan di angin-angin, lalu perlengkapan lainnya yang kotor dibersihkan, yang kurang dicatat.
Perlengkapan yang sudah siap cukup untuk 5 orang, yaitu:
- 2 Tenda Eiger, muat untuk 2 orang & 3-4 orang
- 3 Sleeping Bag Eiger + 1 Coleman (Budi punya 1 yang Eiger)
- 2 Sleeping Bag Layer, Eiger + 2 Air Pillow
- 2 Matras (Budi akan beli 1 di Eiger, Reto bawa sendiri)
- 1 Aluminium Blanket, biasa dipakai untuk Tent Base Layer
- Perlengkapan Masak (Budi yg bawa kompor)
- Perlengkapan Makan-Minum
- 2 Water Bag, hadiah dari Elly Wu (a isi 15 liter)
- 3 Ransel besar, 2 Eiger dan 1 deuter Alpine
- Lantern
- 2 pasang Trekking Pole, Eiger
- 2 Compress-Bag, Eiger
Dalam 4 hari ini, Ling sibuk dengan belanja sedikit demi sedikit bahan makanan dan minuman, makanan yang dipilih diusahakan yang tinggal seduh air panas, masak berat dihindari. Hmm, camping hanya 1 malam, tapi hebohnya gak ketulungan, yah… Ling paling suka urus yang beginian! Ingat waktu ke Himalaya, rasanya… kulkaspun ingin dibawa, segala macam makanan Indonesia dibawa, sampai lontong berikut bumbu gado-gado bisa dinikmati di atas gunung, juga bubur ketan hitam dan kacang hijau, bahkan bawa tepung terigu untuk bikin roti!
Tgl 14 Mei, di rumah Hagie Ling telpon ci Diana agar bisa ke Maribaya, tungguin anak-anak, dia akan datang tgl 30 Mei.
Hari berikutnya, Budi lapor bahwa peserta jadi 5 orang, ga masalah! Dengan berkurang 1 personil, perlengkapan yang ada jadi mencukupi, cuman matras saja yang kurang.
Tgl 20 Mei, Budi melapor, Adam Fuller batal, jadi yang positif berangkat tinggal 4 orang, yaitu: termasuk
- Ling dari Desa Kayu Ambon
- Budi HP dr Asuransi Himalaya Pelidung
- Reto Brosi, Dir.Client Markets-Swiss Reinsurance Company.
- John Sargison, Dir. Swiss Reisurance Company yg bermarkas
di Singapore & HK.
Hari itu juga, Ling kirim e-mail ke Budi dengann subject:
Menu for Trekking to Mt.Gede (2.9658m)
Day 1 : Saturday 24 May
Breakfast, at hotel & On the way to Camp Buntut Lutung:
- Biscuit & Chocolate
- Pure Water or Healthy Longan Tea
Lunch, at Buntut Lutung & on the way to Suryakencana:
- Bread or Pat Thai Noodle soup
- Chocolate
- Tang Orange or Tea
Afternoon Meal at Suryakencana:
- Hot Healthy Chinese Tea
- Healthy Biscuit
- Assorted Korean soup with sea weed & meat
Dinner, at Suryakencana:
- Cream Chicken Soup w/ garlic bread
- Mash Potato
- Fried Noodle
- Cappucino
Supper, before sleep:
- Hot Mashmellow Chocolate
- Biscuit
Day 2 : Sunday 25 Mei
Breakfast, at the top of mt.Gede:
- Chicken Porridge with spread dried meat and
dried vegetation
- Coffee or Cappucino or Tea
Lunch, at base camp:
- Chinese Noodle Soup or bread
- Tea or Pure Water
Daftar ini difwd ke Reto dan John, Budi menambahkan Note:
- Hot Cappucino or hot Latte + snack on the rim, sitting at
Top of Mt.Gede while awaiting sunrise.
- Wine and Whiskey optional hahaha
- Baygon also available, depend on special request, Thatatata.
- The Menu probably will change without prior notice depend
on the situation, hahaha…
Menu itu Ling susun di luar kepala, maklum… kerjaan ibu-ibu. Kami dapat balasan e-mail spontan dari Reto dan John mengenai menu itu, mereka cukup puas. Koresponden melalui e-mail lancar berlanjut.
Tgl 22 Mei, segalanya sudah siap, tinggal ijin dari Paul dan go! Tau-tau Budi telpon, perubahan tgl pendakian, dimajukan jadi tgl 24 Mei! Karena ada miskomunikasi, the bule ngira pendakian tuh minggu ini!! Mereka sudah siap tiket. Kalau ga bisa, berarti pendakian batal dan diundur bulan July mendatang. Ling sudah siap abiz, masa batal? Ga lucu. Budi tanya “Bagamana? Ling ok?” Buat Ling… perubahan itu sangat mengganggu, bagaimana urusan anak-anak? Mereka harus dapat prioritas no.1. Kacau banget nih bule!! Tapi tanpa pikir panjang, saat itu juga Ling bilang “Ling sih ok aja” Persiapan memang sudah ok jauh sebelum hari H, itu kebiasaan Ling, 2 minggu sebelum action segalanya harus siap, minimal 90% ok, Topik Gn.Gede yg selama ini mengisi sms kami masa batal begitu aja? TaUUye.
Setelah Ling OK, Budi harus mengurus ulang ijin pendakian, Erwin, staff Budi jadi bolak balik ngurus surat ijin.
Ling telpon Paul, kabarin 2 hari lagi ke Jakarta dan daki Gn.Gede bersama Budi dbb*. Paul yang belum diberi tahu tentang rencana ini bingung,“Lho kapan Paul kasih ijin tau-tau lapor mau ke gunung?” But, Paul know his wiffy very well,…Sieling ya Sieling, no one can stop her even the sky falling down & the earth breaking! Mountain is her life & Family is her priority, so…? God know. If I hv already say ‘Yes’ for mountain, mean go & climb, tell the mountain she will come! Apa yang Paul bilang? “Atur anak-anak ya & kasih tau rencana ke Jakartanya kapan & bagaimana”, Tralala… easy! Paul memang top! Ling jawab, “Ok, Paul!! (*dbb=dan bule-bule)
Selanjutnya perencanaan Ling berangkat ke Jakarta hari Jumat. Ini agak rumit sedikit, karena Ling kan harus mengurus mengantar-jemput Kienan, sementara Ling harus ke Bandung untuk segera ke Jakarta dengann travel, bagaimana Budi menjemput Ling di terminal dll dll… Jam berapa Ling akan berangkatpun masih kacau, ah… yang penting hari Jumat malam harus sudah stand-by di Jakarta, Budi? Budi belum siap apa-apa, tapi apa yang harus dibawa sudah di luar kepala, tapi perlengkapan yang akan dibawa masih… belum ngumpul, Budi santai!! Jumat itu, pekerjaan kantor masih numpuk, malam masih ada meeting, work-maniac!!
Supir Mama muncul di Maribaya, setelah menjemput Kienan dari sekolah, jadi sekalian jemput Ling. Bawaan Ling yaitu 3 tenda besar, 1 day Pack dan 2 sleeping bag dalam kantong press Eiger, 2 kantong jerigen lipat yang dimasukkan dalam 1 compress-bag, juga 4 Trekking Pole. Menghindar ortu, Ling langsung ketempat travel, Daytrans yang akan berangkat pk.16.00. Pihak travel meminta Ling membayar untuk 3 orang berhubung barang bawaan 3 koli besar… kurang ajarnya, padahal mobil ga full keisi, penumpang cuman 4 orang, masih banyak tempat kosong, hmm… tidak ada toleransi ye…, tawar menawar dapat 1 kursi dihitung porsi anak. Jadi totalnya Rp.150.000,- oklah! Lantas menunggu berangkat 2 jam di rumah ortu, Lamping yang berada hanya 500m dari lokasi travel.
Tiba di Lamping, Mama melotot melihat bawaan Ling yang dikeluarkan si supir dari dalam mobil (dasar kontet, sudah dipesan sumputin teh dianya poho!), walah… Ling langsung diinterogasi mau kemana. Mama curiga Ling akan pergi ke LN, penjelasan yang alot oge ga bisa ngerti, masih juga sewot, Mama tidak percaya dengan bawaan 3 ransel besar gitu untuk pendakian cuman 2 hari, jadi omelin Paul… kenapa ga larang? Selesai telpon Paul, kembali kwek3 ke Ling, belum lagi waktu itu ada 1 sister sebagai penggembira, huh… betapa ramenya dunia ini.
Keributan berlangsung merembet pada kendaraan yang akan Ling pakai ke Jakarta, pake travel? Langsung di tolak. Bagi Mama, naik mobil travel bersama dengann orang-orang tidak di kenal itu hal yang ga baik. Mama menginginkan Ling sewa 1 mobil saja, gile… bayar Rp.150.000,- aja sudah kerasa di cekik, Budi aja sudah SMS ngledek,”Nih org kaya naik travel” Tapi… yah diturutilah, akhirnya sewa 1 mobil yang bisa diisi dengan 9 orang. Mama puas katanya,”Tuh Ling bisa leluasa”.
Setengah jam kemudian mobil travel datang dengan sopir yang tampangnya payah, lemot, kumel, culun dan lebih mirip tukang cuci mobil atau montir. Mama ragu… si sopir diinterogasi, SIM-STNK-Thn kendaraan, mobil diintip – ga bersih, aghh… ga berkenan, jadi enak aja bilang batal, out! Siapa yang bisa berbantah dengan seorang ibu yang ingin memberi kenyamanan buat sang putri raja? Ling yang bingung, jam sudah nunjukkan pk. 16.30, tapi belum apa-apa. Budi smsnya sewot, pake ada kata ‘jaing’ segala maki si supir, karena supir ga mau antar ke Kedoya yang lebih mudah, cuman mau stop di Mampang, titik!
Lagak-lagaknya, Mama ingin Ling batal aja ga usah ke gunung. Mama telpon cari mobil siapa yang bisa dipinjam, harus baru atau minimal thn 2007 dengan supir yang tampang supir dan harus bisa antar Ling turun tepat depan rumah Budi, ga pake turun di tengah jalan!! Mama sempat bla3 ke Paul, omelin kenapa ga pulang untuk jemput Ling, waelah resenya… Ling sendiri ga berani telpon Paul, padahal ingin sekali ngadu diperlakukan “extramewah” gitu, kebayang Paul cuman akan senyam-senyum tapi keluar asap di pori-pori kepala.
Untung Budi ngerti, tapi rasanya malu sekali, apalagi waktu Budi ga sms tapi nelpon minta langsung bicara sama supir, Ling sampai lari keluar rumah bisi Budi bisa dengar nyap-nyapnya Enyak! Budi tanya, “Bagaimana selanjutnya? Di mana turunnya? Bisa bicara ama supir ga? Mau saya marahin tuh supir!!” Walah, Bud, supir yang tadi gamau ke Kedoya tuh sudah diusir balik! Suara Budi terdengar emosi… eh, kudunya Budi minta no.telpon Mama terus bla3nya ke Mama, karena sumber dari segala keresean itu asalnya dari sang permaisuri, mrs.Sugono!! Eh, untung bukan mertua Budi tuh, kalau mertua? Wani teu?
Menunggu mobil datang, Ling sempat jualan tas belanja bikinan Hagie, lumayan terjual 2 set, dapat untung Rp.50.000,-(^_^)!
Akhirnya, berangkatlah dengan supir pribadi dan mobil APV baru yang masih bau plastik dengan karpet yang masih berlapis kertas pabrik. Tak lupa… 2 buah bantal renda dan CD Michael Learns to Rock favorite Ling, hmm dalam hati Ling berguman, “Ma, kenapa ga sekalian bawain porter untuk Ling, jadi Budi ga usah sewa porter di Gn.Putri”. Ohoo bahkan Mama lupa ngasih uang saku untuk putrinya ‘tercinta’, tralala… itu nu butuh teh…
Dalam perjalanan, volume lagu Ling setel sangat keras sehingga apa yang ditanya supir cerewet ga bisa didengar, sepanjang perjalanan, Ling tertidur, begitu buka mata langsung terlihat gedung-gedung tinggi di mana-mana. Wah, telah tiba, inilah neraka… eh Jakarta, si kota Metropolitan!
Malam pk.20.30 tiba di Kedoya setelah sempat nyasar, muter-muter sehingga harus dipandu oleh Budi & Lanni. Sampai di rumah Budi, cape & perut lapar, wuih… tadi Ling mau jajan sebelum sampai ke Kedoya tapi tidak boleh, Budi bilang harus makan di Kedoya karena Lanni telah menyiapkan makan malam, Budi ga mau ngerti kalau Ling malunya ga ketulungan.
Budi pulang jam 21.00, bawa 2 roti tawar untuk di Gede, lalu dinner dan semua ransel di repacking sama Budi, rasa-rasanya Ling lebih banyak merintah daripada membantu. Packing barang cara Ling dengan Budi berbeda. Budi pandai padat-padatin perlengkapan di ransel dan berat tiap ransel diusahain sama, rata-rata tiap ransel seberat 18-20kg, “Biar adil”, kata Budi.
Sementara kami sibuk, eh Budi sibuk…, Lanny sang nyonyapun sibuk suguhin kami jus dan buah anggur hitam, bolak balik sediain minum. Budi ingatin Ling untuk beri kabar ke Paul. Ling coba hubungi Paul, tapi selalu tulalit atau nada sibuk, jadi Ling cuman SMS aja deh, juga SMS ke Kienan dan Fay di rumah.
Oh ya, Ling dan Budi sempat adu ngotot soal jas hujan, Ling sih bawa jas hujan yang ringan tapi mantap, juga celana hujan yang tipis, tapi waktu lihat Budi mau bawa ponco yang berat, ih… ga lucu, karena Budi bilang sudah ga musim hujan tapi bawa ponco, jadi ingat diklat deh, ih… zaman gini masih pake ponco, huahaha deh! Akhirnya… ponco yang sudah masuk ransel di out lagi, Budi bilang, “Ok kalo Ling ga bawa jas hujan, saya juga ga bawa ponco, ga bakal ujan koq”
Acara packing barang yang mau dibawa ini seru juga, Budi main paksa masukkin barang-barang ke ransel, sudah dipress masih juga di tekan-tekan, eh… sadisnya tuh Budi! Ga puas semua barang sudah gepeng, sebelah kakinya masuk ransel mau nginjak-injak barang di dalamnya biar tambah gepeng dan padat, benar-benar manusia ngotot, tampak benang jaitan ransel seakan mau jebol, benang-benangnya sampai keliatan… padahal Ling berdiri lumayan jauh. Waktu Ling lihat resleting ransel Budi yang besar pada jebol, Ling jadi ngerti kenapa ransel Budi bisa caur begitu, lihat saja caranya Budi memperlakukan ransel, seperti sedang nyiksa penjahat!!
Besok subuh rencana kami berangkat ke hotel Novus, Cipanas di mana the Bule menginap (Rp. 900.000,- se malam)
Rencananya pk.05.00 pagi mulai gerak dari Pos PPA Gn.Putri. Beres-beres selesai sampai jauh malam, 3 ransel gendut, 1 ransel Eiger kosong untuk cadangan.
Ling nginap di rumah Budi, di kamar atas yang nyaman dan sejuk ber AC, tapi malam itu sebenarnya Ling ga puguh rasa, ini pertama kali Ling nginap di rumah keluarga lain, bagaimana kalau mati listrik? Di dalam lemari itu apa? (Masa tanya ke Budi?), apakah ada para-para kebuka? Khayalan kemana-mana! Wah, kayanya kalau telpon ke Paul nyambung, pasti minta dijemput, karena Paul sudah pesan, bila ga betah, telpon Paul dan bisa nginap di hotel. Tapi ga nyambung, mau pinjam telpon rumah, takut Budi tersinggung, ditemani Andrea atau Amanda, maluin, mau tidur di ruang tamu? Di loteng rasanya terpencil. Budi kasih senter untuk jaga-jaga, jadi tidurnya sama-sama senter. Ling pandangi sekeliling kamar,… aman deh. Budi nunjukkin di mana WC dan Kmr Mandi, Lampu, colokkan, beres! Waktu Ling baringan, ada nyamuk kecil2 menyerang pinggang, leher & tangan,… kulit di sana bergelombang gatal pisan. Sebenarnya kamar sudah disemprot, tapi kayanya tadi ada serombongan nyamuk ngikuti Ling masuk kamar, wuih ganasnya! Sebelum tidur coba telpon Paul, tapi batere off.
Ngantuk sudah ga tahan, besok hari yang dinanti, tekad3, jadi… lupakan rumah, lupakan anak suami… jauhi segala yang bakal membuat otak mumet, ingat Gn.Gede saja.
Doa, lalu tidur….
Zzzz…zhinnnggg….zzzz….
HARI PERTAMA, 24 Mei 2008
PENDAKIAN MENUJU SURYAKENCANA
Pagi hari, rasanya malas sekali ketika Budi membangunkan Ling, agh… pengennya Zzzz beberapa puluh menit lagi, mimpi apa ya? Begitu ingat Gn.Gede & tamu yang menunggu kami, bangun deh segera. Mandi dan sarapan! Ling dan Budi pake kaos seragam, GO GREEN! Sebelum berangkat, Ling masih sempat masukkin ponco dalam ransel, yah… siapa tau butuh.
Perjalanan menuju Novus Hotel d/h. Summit Panghegar di Cipanas ditempuh dalam waktu 2 jam, seperti biasa, Ling tiduran, jalan yang kelak-kelok menuju arah Puncak membuat kepala pusing, pas ada bantal menggoda si teler.
Tiba di hotel, tampak Reto dan John sudah berdiri di depan lobby. Sebelum masuk mobil, barang-barang the Bule di packing, yang tidak perlu ditinggal di mobil. Dari hotel, kami menuju Pos PPA di Gn.Putri untuk menemui porter. Porter langsung sibuk mengatur barang yang akan mereka pikul.
Oh ya, mobil Budi stand-by di pos Gn.Putri for emergency. Sofyan, supir Budi akan menginap di pos. Persiapan yang sangat matang, hal terkecilpun sudah Budi pikirkan, good!!
Ada 4 porter yang akan ikut kami, mereka adalah:
1. Balung, paling kuat & kata Budi paling ‘sayang’ sama Ling
2. Eddy, suka nungguin kami, membawa daypack Ling
3. Hadi, badannya kecil, kuat & bisa berbahasa Inggris
4. Mea, pendiam, suka masak, dia membawa air
Fee porter yang harus dibayar adalah Rp.300.000,- per orang dengan tip Rp.50.000,- per orang. Budi memberi tip pada petugas PPA, Bapak Emon sebesar Rp.100.000,-. Jadi total biaya untuk sewa 4 orang porter untuk 2 hari adalah 1.500.000,- all in. Mereka akan menyiapkan perlengkapan dan perbekalannya sendiri. Budi memberi Rp.50.000,- per orang untuk mereka beli perbekalan, sisanya setelah usai pendakian.
Setelah semua OK, Ling bagikan jatah menu makan pagi pada team, trekking pole rada macet, waktu ditarik oleh salah satu porter, malah copot dan memerlukan waktu lama untuk memperbaikinya, jadi ditinggal di pos, Ling cuman bawa 1 saja, yang 2 ditinggal di mobil. John, Reto dan Ling memakai topi kembar, sponsor dari AHP.
-
Start Perjalanan pk.8.00, lihatlah bawaan porter Indonesia, lumayan
Start Perjalanan pk.8.00, lihatlah bawaan porter Indonesia, lumayan
-
Start Perjalanan pk.8.00, lihatlah bawaan porter Indonesia, lumayan
Start Perjalanan pk.8.00, lihatlah bawaan porter Indonesia, lumayan
Perjalanan dimulai di sini, medan bertangga langsung menanjak melewati perumahan penduduk yang sederhana kemudian perkebunan yang sangat subur, matahari sangat terik. John sangat kagum dengan tanah yang subur, sayur mayor tampak hijau ditanam sangat rapih, indahnya Indonesia tampak disini.
-
Menyusuri perkebunan
Menyusuri perkebunan
-
2 macam bunga sayur,
2 macam bunga sayur,
-
kelak untuk bibit
kelak untuk bibit
-
Post Pemeriksaan
Post Pemeriksaan
“Good soil” kata John, sedangkan Reto sangat kagum dengan rumah penduduk yang tampak asri. Yah… belum apa-apa the Bule sudah kagum melihat pemandangan disini, Sofyan ikut jalan sampai di pos pertama, Pos Pemeriksaan (Check Point)
Beberapa meter sebelum pos pertama untuk melapor, Ling harus menyebrangi sebuah jembatan yang hanya 1,5m, bagaimana nih? Tadinya kirain berani, tapi ketika kaki hendak melangkah, si lutut langsung gemetar… Ling sadar jembatan ini ga mungkin bisa disebrangi, jadi… Ling menyusuri perkebunan, siapa tahu selokkan menyempit dan bisa dilompati, tapi ternyata tidak! Akhirnya dengan malu, Ling minta bantuan Budi. Melompatlah Ling seperti kodok (ternyata Budi mengira tadi Ling nyasar, yey… malu atuh di kebun nyasar!).
Sampailah di Pos Pemeriksaan/lapor (1.500m), di sini kami berdoa bersama sebelum lanjut perjalanan yang sebenarnya, tampak beberapa orang pemuda-pemudi yang hendak mendaki pula. Tidak sampai 10 menit, kami lanjutkan perjalanan, menuju Pos Informasi, yuk… lanjut!!
-
Start Pendakian, menuju post berikutnya
Start Pendakian, menuju post berikutnya
-
kembali menyusuri perkebunan
kembali menyusuri perkebunan
-
Snap with movie-star
Snap with movie-star
-
Papan kerjasama TNGP dgn Japan & TSI
Papan kerjasama TNGP dgn Japan & TSI
Perkebunan yang subur menyertai langkah kami, sejauh mata memandangm hanya berbagai sayur mayur, ada bungkol, sawi, bawang daun, tomat, selada, cabai dll, hmm lagu ‘desaku yg tercinta, pujaan hatiku…’ seakan tergiang di telinga.
Hidup di sini pastilah sangat damai.
Di perjalanan, kami bertemu dengan rombongan pemuda dari Cianjur, mereka heboh melihat ada bule, wuih dikira movie-star, lantas minta berfoto-ria, berbincang dan bertukar alamat e-mail.
Awal perjalanan masih enteng, sebelum masuk hutan, kami harus menyebrangi sebuah sungai yang cukup deras dan meniti bebatuan, sebagian batu itu dialiri air, untung tidak licin, bila terpeleset, nyebur dan lumayan ga lucu!
-
Menyebrangi sungai deras
Menyebrangi sungai deras
-
Mulailah memasuki area hutan
Mulailah memasuki area hutan
-
Ceritanya Budi Olah Raga angkat beton sebelum lanjut perjalanan (komentar: Kampungan ahh, tp gaya pamer keteknya ok juga utk iklan)
Ceritanya Budi Olah Raga angkat beton sebelum lanjut perjalanan (komentar: Kampungan ahh, tp gaya pamer keteknya ok juga utk iklan)
-
Lihatlah Pos Informasi yang kayunya habis dimakan rayap manusia
Lihatlah Pos Informasi yang kayunya habis dimakan rayap manusia
Mulai dari sini, kami menanjak medan bertangga yang lumayan melelahkan, mulai dari sini pula, medan tidak pernah ada yang menurun, terus menanjak, bervariasi.
Sebelum memasukki area hutan yang sebenarnya, kami singgah di satu pos yang cukup besar, itu pos informasi… tapi tidak ada 1 petugaspun, pos itu juga berfungsi sebagai tempat peristirahatan bagi para pendaki. Sayang sekali kondisinya itu benar2 caur, papan yang ada telah hilang 80%, kamar-kamarnya tampak tinggal bekasnya saja, yang masih tampak hanya 2 WC yang kotor penuh coretan, itu tidak dibongkar karena dindingnya bukan kayu. Lantai semen yang ada menandakan dulu bangunan ini dibangun dengan dana yang lumayan. Rupanya para pendaki atau siapalah yang singgah disana memanfaatkan papan dindingnya untuk kayu bakar, hmm… dimana otak mereka? Yah… gaada dimana-mana, karena mereka memang ga punya otak! (lho koq sewot?)
Udara yang tadi terik panas, berganti jadi sejuk berangin, pohon-pohon mulai meneduhkan kami.Di sini kami berkumpul dan istirahat beberapa menit sekedar ngemil, minum, berbincang dan berphoto-ria, kami membiacarakan hotel bolong-bolong itu dengan penuh prihatin.
Memasukki area hutan, jalan yang tadinya bertangga-tangga mulai berkurang, diganti dengan jalan setapak yang cukup lebar dan jelas meskipun ada beberapa pohon yang menghalangi atau memutuskan jalan yang harus dilewati
Akar-akar pohon sunguh berantakan, kadang kami harus extra keluar tenaga untuk menaiki medan yang cukup tinggi, hupp!
-
Oh old man, kata Reto setelah berhasil naik medan sepinggang
Oh old man, kata Reto setelah berhasil naik medan sepinggang
-
Oh old man, kata Reto setelah berhasil naik medan sepinggang
Oh old man, kata Reto setelah berhasil naik medan sepinggang
-
Giliran Budi menanjat Old Man Route, Old Men Never Die,katanya
Giliran Budi menanjat Old Man Route, Old Men Never Die,katanya
-
Giliran Budi menanjat Old Man Route, Old Men Never Die,katanya
Giliran Budi menanjat Old Man Route, Old Men Never Die,katanya
Pada pk.11.02, kami telah mencapai ketinggian 2.090m, saat mendapat medan yang rada heboh, Reto berseru,”Oh… old man” disambut sahutan Budi yang nyaring,”Old men never die!”
Reto yang merasa tua berjalan sangat mantap jauh di depan Ling. Ling sendiri, hmm… lebih banyak menikmati alam daripada berjalan cepat, dimana Budi? Budi beberapa meter di belakang Ling yang tampak selalu celingak-celinguk, sebentar-bentar membidikkan kameranya. Ling sih seperti biasa, bervideoria sambil bercerewetria mengomentari apa yang terlihat, hmm… sungguh perjalanan yang santai dan menyenangkan.
-
Di mana saja, kapan saja, Budi gayanya tetap dipelihara
Di mana saja, kapan saja, Budi gayanya tetap dipelihara
-
Di mana saja, kapan saja, Budi gayanya tetap dipelihara
Di mana saja, kapan saja, Budi gayanya tetap dipelihara
Rasanya sudah lama nian tidak memasukki hutan seperti itu, hutan gunung khas Indonesia, yang ini tidak begitu lebat, tak banyak pepohonan besar yang Ling temui, banyak pohon tumbang karen lapuk, bukan karena ditebang.
-
Bersendar di pohon besar yang rubuh, memandang atap langit, hmm
Bersendar di pohon besar yang rubuh, memandang atap langit, hmm
-
Disana tadi Ling duduk santai sambil merenung, hmmm
Disana tadi Ling duduk santai sambil merenung, hmmm
Sesekali Ling duduk di batang pohon yang tumbang, hmm… bukan cape lho, tapi memang ingin merasakan bersender pada batang pohon yang tampak belum lama tumbang.
Ling bayangkan, pohon yang tadinya berdiri tegak tak mungkin terjangkau, sekarang Ling bahkan bisa berbaring di batangnya yang melintang, ujung pohon itu bertumpu pada pohon lain menjadikan seperti sebuah jembatan.
Ling diam sesaat memikirkan Tuhan, memikirkan keadaan hutan itu bila dalam keadaan gelap, apa yang Ling rasa. Ling coba merayap naik lebih ketengah batang pohon besar itu, tanah pijakkan berada kira-kira 2 meter ke bawahnya, pohon itu kuat tak bergoyang, Ling mikir… andai ini jembatan, bisa ga takutkah seperti sekarang? Ling selalu menyesalkan diri, kenapa harus takut menyebrangi jembatan?
Selanjutnya Ling dan Budi berjalan santai sambil bercerita tentang kantor tempat dulu Ling berkuasa, tentang jalan pikiran ortu… mengalir begitu saja, sampai di satu tempat, Ling merasa perlu mengeluarkan sebagian emosi dan melampiaskannya pada trekking-pole yang sedang Ling pegang, Pang!! Ling benturkan kaki ketiga itu di entah pohon atau batu yang membuat tongkat itu patah 20 cm ujungnya, tongkat itu jadi pendek dan tidak bisa lagi dipakai! Ya Tuhan, Ling kan sangat butuh tongkat itu! Hmm, emosi sesaat yang sangat merugikan. Kenapa Ling di hutan marah? Ini sungguh tidak baik. Kesal langsung hilang berganti dengan ketawa, yeah… tongkat ini sudah lelah, dia telah menjadi kaki ke 3 ketika mendaki ke 3 EHT dan Lobuche East, anggap saja dia telah keropos! Sejak itu, Ling harus pandai-pandai mengatur keseimbangan badan.
-
Jalan setapak yang diselimuti akar-akar
Jalan setapak yang diselimuti akar-akar
-
Hutan Gn.Gede
Hutan Gn.Gede
Jalan yang kami tempuh kadang semerawut ga karuan, akar-akar pohon seliweran seakan tak mampu menembuh tanah di bawahnya, langkah kaki harus hati-hati agar tidak terkait.
Disini beberapa saat Ling berhenti, tengadahkan wajah keatas, hutan yang tidak begitu lebat tidak bisa menutupi langit terang di atasnya. Di tempatnya berdiri, tampak Budipun melihat ke atas dan sekitar hutan, hutan yang sangat sepi… tidak ada desiran angin, tidak terdengar kicauan burung, hanya bunyi degungan seekor tawon yang sejak dari area kebun selalu mengikuti langkah Ling, berharap si tawon nyingkir, Ling sering bilang,”Pait2-asem2, racun2-seupeut2, pedas2-asin2” eh, benar ngilang, tapi ga lama nyamperin lagi, mungkin si tawon suka ama yang manis (GR). Tadi di bawah Eddy mengatakan, bila disengat tawon itu, akan bengkak dan sakit panas, hiyy…
Kami bertemu dengan salah satu porter, Eddy yang duduk santai menunggu kami, pendakian diteruskan sampai pos kecil dan bertemu dengen Reto dan John, rupanya mereka sudah mulai lapar, kami akan stop di pos berikutnya, yaitu Pos Buntut Lutung untuk makan siang, Budi menyuruh Eddy jalan lebih dulu dan setiba disana, segera memasak air.
Buntut Lutung, nama yang unik, entah kenapa pos itu dinamakan itu, sebab ketika kami tiba, yang kami lihat adalah lapangan yang cukup luas, terdapat tempat duduk yang terbuat dari batu dan sebuah tiang bekas saung berteduh, kemana atap saungnya? Sudah pasti dimakan rayap berbentuk manusia pula! Di sana, kami melihat 4 lutung local dan 2 lutung putih telah menanti kami, aha… pada lapar ye? Ling langsung masak, menu kali ini adalah Makanan Thai, Phathai Rice Noodle Soup ditambah sea weed, dried veggie and meat, Mae telah menjerang air sehingga dengan cepat makanan tersaji. Ini pertama Ling memasak.
Tadi saat masak, turun hujan rintik yang cukup mengganggu, dengan cekatan para porter membentangkan terpal yang mereka bawa. Acara masak berlangsung lancar dan makan siang terasa nikmat menyenangkan.

